You are browsing with label: Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Ada sebanyak 3.700 mahasiswa baru tiap tahunnya di IPB. Mahasiswa-mahasiswa baru ini datang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. IPB sendiri menyebut mahasiswa-mahasiswa baru ini sebagai putra-putri terbaik bangsa. Dari 10 orang yang mendaftar hanya satu yang diterima. Satu yang diterima itu adalah salah satu putra-putri terbaik bangsa.

Untuk biaya masuk sendiri IPB tidak memberatkan calon-calon mahasiswanya. Ada banyak cara untuk membayar uang masuk tersebut. Satu dari empat mahasiswa IPB masuk tanpa membayar uang pangkal sama sekali. Mereka adalah calon mahasiswa yang mendapatkan beasiswa bidik misi. Pemerintah sendiri lewat DIKTI  menyediakan kuota sebanyak 1000 beasiswa untuk calon mahasiswa IPB.

Seorang calon mahasiswa IPB baru bisa dikatakan sebagai mahasiswa IPB apabila telah memiliki Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Selanjutnya mahasiswa ini baru sah sebagai mahasiswa IPB dan akan mendapatkan pendidikan. Tidak seperti Perguruan Tinggi lainnya, IPB sendiri pada tahun pertama menerapkan sistem pendidikan yang disebut TPB (Tahun Persiapan Bersama). TPB adalah masa-masa persiapan untuk mahasiswa baru sebelum masuk ke departemen atau fakultas.

Mahasiswa IPB tidak disebut berdasarkan jurusannya masing-masing walaupun diterima di jurusan yang dipilih. Misalnya Mahasiswa baru yang diterima di jurusan Kedokteran Hewan tidaklah disebut Mahasiswa FKH tapi disebut sebagai mahasiswa TPB. Selama dua semester mahasiswa TPB akan tinggal di asrama yang dikenal dengan asrama TPB. Asrama mahasiswa (putra) dan mahasiswi (putri) dipisahkan. Untuk asrama putera disebut Astra dan asrama putri disebut Astri. Jadi pada tahun pertama mahasiswa IPB harus melewati dua masa pada satu waktu, yaitu masa TPB dan masa asrama.

Masa TPB sendiri ditujukan untuk menyamakan tingkat dan kualitas pendidikan mahasiswa. Kualitas pendidikan SMA satu daerah tentu tidak sama dengan SMA di daerah lainnya. Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut seperti kurangnya sumber daya guru dan juga fasilitas yang tidak memadai. IPB sendiri tidak berkeinginan untuk membedakan kemampuan dan pemahaman akan ilmu bagi mahasiswanya. TPB adalah cara yang tepat untuk mengatasi ketidaksamaaan kualitas pendidikan tersebut. Kurikulum TPB sendiri sama seperti kurikulum SMA. Mata-mata kuliah yang diajarkan juga sama dengan mata pelajaran SMA. Oleh karena itu mahasiswa IPB sering menyebut TPB sebagai kelas empat –nya SMA. Materi-materi yang ada pada mata kuliah TPB tidak jauh berbeda dengan materi-materi yang ada di SMA. Materi-materi ini akan sedikit dipersempit dan diarahkan ke materi yang mendukung pertanian. Contohnya adalah mata kuliah Sosiologi Umum. Mata kuliah ini tetap mengajarkan materi-materi penting Sosiologi Umum seperti biasanya. Namun dalam hal pemberian kasus untuk dianalisis pasti yang berkaitan dengan yang namanya pertanian. Pertanian yang dimaksud adalah pertanian dalam arti luas yang mencakup peternakan, veteriner, perikanan-perairan, kehutanan dan juga teknologi pertanian. Diharapkan selepas dari TPB pemahaman semua mahasiswa baru IPB sama. Kesamaan ini akan menjadi dasar dalam memahami materi-materi yang sesuai jurusan atau departemen yang dipilih.

Masa-masa TPB adalah masa-masa pertukaran budaya, mengingat mahasiswa-mahasiswa baru IPB tidak datang dari satu daerah saja. Semua datang dari penjuru Indonesia. Mahasiswa yang berasal dari Jawa tetap mendominasi, namun tidak sedikit juga yang berasal dari Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan Papua. Tidak ada masalah dengan adanya dominasi kebudayaan tersebut.

Ketertukaran budaya cukup diwakili oleh satu orang mahasiswa saja. Satu mahasiswa ini sudah bisa menggambarkan tentang kebudayaan yang dibawa. Selain itu informasi yang didapatkan tidak akan jauh berbeda dengan mahasiswa lainnya dari daerah yang sama.

Masa-masa asrama sendiri adalah masa-masa penuh kebagian, begitu pernyataan sebagian besar mahasiswa IPB yang telah melewati masa-masa tersebut. Pada masa inilah mahasiswa IPB akan menceritakan jalan mereka ketika masuk IPB. Hal yang paling mencolok adalah alasan masuk IPB dan memilih jurusan. Jika dibandingkan hanya satu dari sepuluh mahasiswa IPB yang masuk karena benar-benar mencintai pertanian. Sembilan lainnya memilih IPB karena banyak alasan. Ada yang yang masuk karena memperjuangkan prestige sekolahnya. Jika tidak memilih IPB maka SMA nya tidak akan mendapatkan jatah tahun berikutnya. Ada juga yang masuk untuk menghindari sekolahnya dari “blacklist” IPB. Isu yang beredar menyebutkan kalau sekolah-sekolah yang sudah di “blacklist” otomatis siswanya tidak bisa masuk IPB. Alasan-alasan inilah yang menjadikan siswa tersebut terpaksa harus memilih IPB, terkadang malah dengan jurusan yang tidak mereka inginkan sama sekali. IPB sendiri memberlakukan aturan ketat seperti ini untuk mencegah “peng-anak tirian” pilihan. Selama ini IPB merasa selalu di nomor dua kan dan dijadikan sebagai pilihan alternatif jika tidak diterima di perguruan tinggi lainnya.

Bicara memilih jurusan kebanyakan dari siswa tidak mengerti dengan jurusan yang mereka pilih. Informasi tentang Perguruan Tinggi yang ada dan bisa dipilih itu tidaklah memadai. Guru sebagai tenaga pendidik yang bertanggung jawab terhadap pendidikan siswanya juga tidak memiliki informasi yang cukup mengenai Jurusan dan Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia. Bahkan ada juga oknum guru yang tidak peduli dengan hal ini. Akibatnya jurusan yang dipilih adalah jurusan yang namanya aneh, bagus dan asing. Suatu jurusan yang baik dinilai berdasarkan namanya, bukan dari program jurusan tersebut. Sementara jurusan lain yang tidak memiliki nama yang menarik menjadi pilihan terbawah. Jurusan-jurusan dengan nama pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan tidak menjadi prioritas. Siswa-siswa yang tidak diterima di jurusan yang mereka inginkan (jurusan pilihan pertama) berkemungkinan diterima di jurusan yang ada di pilihan kedua. Pilihan kedua ini kadang-kadang adalah jurusan yang dipilih secara asal-asalan. Selanjutnya siswa ini mau tidak mau harus memutuskan, memilih jurusan yang diterima atau mendaftar di Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Pilihan memilih jurusan yang diterima adalah pilihan rasional. Kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) jauh lebih prestise dibanding kuliah di Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Faktor biaya juga menjadi alasan. Hanya orang-orang kaya yang bisa bertahan dengan biaya kuliah mahal di PTS. PTS sendiripun tidak menyediakan beasiswa yang cukup untuk mahasiswa yang tidak berkecukupan dalam masalah biaya.

Kuliah di jurusan yang tidak diketahui. Itulah imbas dari pilihan yang tidak beralasan. Hanya satu dari sepuluh mahasiswa IPB yang benar-benar tau informasi tentang IPB. Sedikit sekali yang benar-benar merencanakan untuk kuliah di IPB dengan jurusan yang mereka sukai. Akibat akan mengakibatkan hal yang lainnya. Pertama memilih jurusan asal-asalan akibatnya diterima di jurusan yang tidak sesuai keinginan. Kedua, Karena tidak diterima di jurusan yang sesuai keinginan kuliah menjadi malas, nilai turun, dapat surat peringatan dan akhirnya DO. Banyak mahasiswa yang DO bukan karena kasus-kasus kriminal. Rata-rata alasan di DO adalah tidak bersemangat dengan jurusan yang dipilih. Tidak ada motivasi untuk belajar, tidak melihat prospek masa depan yang cerah dari jurusan yang pipih membuat mahasiswa ini DO di semester-semester awal kuliah.

Walaupun IPB sendiri tau kalau ketidaksukaan dengan jurusan yang dipilih adalah masalah personal, namun IPB juga tidak mau kehilangan putera-puteri terbaik bangsa hanya karena masalah ini. Ada potensi yang besar dari seorang pemuda dan potensi itu bisa memajukan bangsa Indonesia, terutama di bidang pertanian. Putera-puteri terbaik bangsa ini hanya mengalami sedikit kegalauan dengan jurusan-jurusan yang mereka pilih. Jika diibaratkan, mereka seperti pedang yang bengkok yang sewaktu-waktu bisa patah jika tidak diluruskan lagi. IPB sebagai Perguruan Tinggi yang diberikan amanah oleh bangsa ini untuk memajukan pertanian Indonesia memiliki tanggung jawab untuk meluruskan pedang yang bengkok tersebut. Dengan segala daya dan upaya pedang ini akan lurus dan siap membabat gulma-gulma pertanian Indonesia.

Asrama TPB merupakan salah satunya. Asrama ini bukan sekedar tempat tinggal saja. Terdapat berbagai program pembinaan seperti apel pagi, SOGA (Sosial Gathering) lorong dan beberapa program lainnya yang bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta akan pertanian. Terdapat juga kakak-kakak pendamping yang disebut Senior Resedent (SR) yang senantiasa membimbing mahasiswa-mahasiswa baru dalam berbagai hal. Pembibingan ini menyangkut semua hal tidak hanya terbatas pada program-program asrama. Salah satu contohnya adalah diskusi bebas. Dalam diskusi bebas ini semua topik boleh dibicarakan dan nanti SR akan menghubungkannya dengan pertanian. Inti dari diskusi bebas itu adalah memberikan paradigma kepada mahasiswa baru bahwa pertanian tidaklah seperti yang mereka pikirkan. SR juga akan mengatakan kalau perjuangan itu tidak harus dengan hal-hal yang disukai, justru dengan hal yang tidak disukai membuat diri untuk belajar tentang hal yang dikesampingkan selama ini. SR juga memberikan pernyataan kalau kuliah di IPB adalah pilihan tepat. Apapun jurusan yang dipilih, suka atau tidak suka IPB akan menjadikan mahasiswa baru menjadi pejuang pertanian, laskar pertanian Indonesia. Artinya memperjuangkan nasib rakyat kecil, rakyat kalangan bawah yang mendominasi Indonesia ini. Jika merasa tersesat, maka tersesatnya tidak lah ke jalan yang salah tapi ke jalan yang benar.

Penanaman nilai-nilai cinta akan pertanian, cinta akan jurusan yang dipilih, cinta akan keputusan yang telah diambil tidak hanya dilakukan oleh SR tapi juga dosen. Dosen sendiri pasti menyematkan kalau pertanian tidak seperti yang disangka mahasiswa. IPB juga tidak seperti yang disangka. Banyak orang-orang besar dulu kuliah IPB dan banyak di antara mereka dulunya adalah orang –orang yang salah jurusan juga. Intinya dosen akan mengatakan kalau merasa tersesat di IPB maka tersesatnya tidak di jalan yang salah tapi dijalan yang benar. Mereka besar karena mengubah ketidaksukaan menjadi kecintaan.

Begitulah cara dan nilai yang ditanamkan IPB dalam menyikapi salah jurusan. Ketidaksukaan memang menyebabkan penurunan spirit belajar dan berjuang. Lewat kerjasama semua elemen ketidaksukaan itu akan tergantikan dengan kecintaan kepada jurusan yang dipilih. Cita-cita bisa ditulis ulang, passion bisa bentuk dan mood bisa dikontrol . Tersesat bisa benar-benar tersesat dan tersesat yang tersesat di jalan yang benar. Tersesat di jalan yang benar itulah dampak dari adanya pilihan-pilihan yang harus diambil.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/05/24/33781/tersesat-di-jalan-yang-benar-dilema-pemilihan-jurusan-mahasiswa-ipb/#ixzz2UFdG67xc
Read more

Oleh: Ustadz. Hatta Syamsuddin
PKS Taktakan - Kehidupan terus berputar. Terjerembab jangan membuat mata kita terus sembab. Terpuruk tak berarti masa depan kita buruk. Terkadang kita tergerus dosa, namun jangan sampai menjadi putus asa. Ibnul Qayyim dalam kitab Madarijus Salikin mengutip ucapan salaf yang aneh terasa: ‘Adakalanya seorang hamba berbuat dosa, namun masuk surga. Dan adakalanya seseorang mengerjakan ketaatan, namun masuk neraka’. Benar demikian, dosa dan kemaksiatan yang diikuti dengan pertaubatan sungguh-sungguh selalu melahirkan lompatan keimanan yang jauh lebih tinggi dari sebelum berbuat dosa. Sementara ketaatan yang diikuti rasa puas diri dan sikap jumawa akan menggerus pahala sampai titik nol yang sia-sia. Kesedihan dan penyesalan akan sebuah kesalahan adalah hal yang perlu, tapi berputus asa dan lemah semangat setelahnya adalah jauh dari sikap mereka para tokoh kesatria nan mulia.

Mari kita belajar dari sosok Nabi Sulaiman SAW, satu-satunya di dunia ini yang diberikan tiga hal yang bahkan tidak diberikan kepada Nabi Muhammad SAW. Tiga hal tersebut adalah kekayaan, kenabian dan kekuasaan. Namun tidak selamanya kehidupan beliau berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Ada satu episode kehidupan beliau yang bahkan dicatat dalam Al-Quran dan diperjelas dalam As-Sunnah, yang memberikan pelajaran bagi kita tentang sikap pertaubatan yang dahsyat.

Kisah ini termuat begitu lengkap dalam kitab hadits Bukhari dan Muslim, bagaimana suatu ketika Nabi Sulaiman begitu percaya diri mengumandangkan tekadnya: ‘Aku akan menggilir sembilan puluh sembilan istriku semalaman, yang kesemuanya akan melahirkan anak laki-laki yang berperang fii sabiilillah”. Ia merindukan generasi yang hebat, maka sebuah tekad yang dahsyat pun dilantunkan. Hanya saja pada waktu itu beliau tidak menambahkan kalimat ‘insya Allah” (jika Allah SWT berkehendak). Seorang sahabat beliau telah mengingatkan: “Ucapkan Insya Allah“. Namun beliau lalai dan tak hati-hati, terlupa nasihat sang sahabat dan langsung menjalankan apa yang ia tekadkan, menggilir istri-istrinya dalam satu malam.

Apa yang terjadi kemudian adalah episode keterpurukan dan ujian bagi nabi Sulaiman. Dari 99 istrinya tersebut, ternyata hanya seorang saja yang melahirkan bayi dan itupun dalam keadaan cacat, digambarkan dalam hadits sebagai “setengah manusia”. Maka orang-orang pun meletakkan bayi itu di atas kursi Sulaiman, dan melihat hal tersebut Nabi Sulaiman pun terpuruk, bersedih mengingat ucapannya terdahulu. Inilah yang digambarkan dalam surat Shad ayat 34 Allah SWT berfirman mengisahkan: “dan Sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan dia (anaknya) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah cacat) kemudian ia (Sulaiman) bertaubat. Bahkan Rasulullah SAW pun menambahkan saat menceritakan kisah ini, sekiranya ia (Sulaiman) mengucapkan insya Allah, niscaya setiap istrinya akan hamil dan melahirkan seorang anak yang akan berjuang di jalan Allah.

Dalam semangat yang begitu hebat untuk melahirkan generasi pejuang, nabi Sulaiman lalai dan diingatkan oleh Allah SWT. Bagi sebagian orang ini adalah kelalaian yang sangat teknis dan sederhana, namun ternyata dibalik yang kecil itulah tersimpan cara dan hikmah Allah SWT menguji dan membesarkan nabi Sulaiman. Apa yang terjadi setelahnya? Nabi Sulaiman pun bertaubat, beliau meminta ampunan sekaligus penyesalan yang mendalam di hadapan Allah SWT. Namun itu tidak disertai kesedihan yang bertalu-talu, ataupun rasa putus asa yang menggurita dalam dada, justru sebaliknya Sulaiman tahu ia sedang diuji. Maka ia pun bertaubat dengan mengajukan permohonan yang lebih dahsyat dari yang ia capai sebelumnya. Sebuah istighfar segera disusul dengan proposal untuk mendapatkan kerajaan terbesar yang pernah dikenal dalam sejarah manusia. Dengan jelas lisan Sulaiman berujar: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi“ (Shad:34-35)

Subhanallah, taubat yang melahirkan semangat dahsyat. Dalam taubatnya nabi Sulaiman terus melanjutkan cita, bahkan ia mempunyai target yang lebih kuat, lebih besar, dari yang ia miliki sebelumnya. Sebuah kerajaan yang akan senantiasa dikenang dalam sejarah tentang kebesaran dan kekuasaannya. Maka Allah SWT pun memberikan kepada Sulaiman apa yang ia cita-citakan. Angin pun dalam genggaman, para jin tunduk di hadapan, bahkan penguasa-penguasa negeri lain siap bergabung dalam keislaman.
Pelajaran besar terpatri dalam hati, mari kita bertaubat layaknya Nabi Sulaiman. Sebuah pertaubatan yang akan menjadi hentakan sejarah, untuk mencapai kemenangan dan kejayaan jauh lebih besar dari yang kita capai pada hari ini.

Semoga bermanfaat dan salam optimis.
Read more

“Jika kamu bersabar dan bertaqwa ketika mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda” (Q.S. Al-Imran: 125)

Mengawali tulisan ini, penulis teringat dengan salah satu perang yang membawa kemenangan bagi pasukan Rasulullah Saw, perang Badr. Perang yang membakar semangat umat Islam, perang yang membuat penulis merinding tatkala membaca kisah-kisah keajaiban yang muncul karena bantuan yang dikirimkan oleh Allah. Seperti kata Allah pada kutipan ayat di atas. Dia datang menolong dien-Nya dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda dan entah dengan jalan apa lagi DIA akan menolong hamba-Nya yang selalu bersabar.

Dalam keadaan bagaimana pun, seruan Allah akan kesabaran ini amat banyak dalam kitab suci Al-Quran, hingga pantaslah jika ‘bersabar’ adalah pekerjaan berat yang akan diujikan kepada tiap hamba yang senantiasa berpegang teguh pada tali agama-Nya. Dan wajarlah bila balasan yang dijanjikan bagi orang yang bersabar adalah surga, sebab ia teramat berat untuk dijalani.

Pembaca milis yang setia, ketika diri dilanda fitnah, maka di situlah awal sabar hendak ditanam. Tak usah khawatir akan fitnah. Sejak zaman Rasulullah, toh, perbuatan keji itu sudah ada. Masih jelas, amat kental dalam ingatan penulis, ketika orang paling munafik di kalangan Quraisy memfitnah Aisyah RA bahwa beliau sengaja berkhalwat (berduaan) dengan salah seorang sahabat. Padahal, berdasarkan kisah, sungguh hal itu tidaklah seperti yang dituduhkan. Begitu berbahayanya fitnah hingga berita tersebut menyebar di seluruh kalangan dengan begitu cepatnya. Bahkan, salah seorang sahabat, Abu Bakar Assiddiq RA yang dikenal dengan kelembutan hatinya sedemikian marahnya mendengar putrinya, Aisyah, berbuat demikian. Apatah lagi sang suami, lelaki paling mulia, Rasulullah SAW ketika mendengar kabar tersebut kemudian terbesit rasa percaya akan kabar tersebut, sungguh penyiksaan besar yang dirasakan oleh Aisyah RA semalam suntuk beliau menangis pedih. Tiga bulan lamanya ia dijauhi oleh Rasulullah, Saw. Bahkan sempat terdengar kabar, Abu Bakar RA rela putrinya diceraikan sekiranya kabar tersebut benar adanya. Itulah fitnah, punya kekuatan menumbangkan lawan atau musuh dari segi mental. Na’udzu billah tsumma na’udzu billah. Namun, perlu kita ketahui bersama bahwa kebenaran akan terkuak dengan sendirinya. Kesabaran akan membuka tabir fitnah yang tak jelas itu. Jikalau Rasulullah memperoleh kebenaran dari adanya wahyu, tentulah manusia biasa pun akan diberikan jalan oleh-Nya.

Tak perlu risau dengan fitnah. Bukankah memang demikian adanya! Kebenaran akan diiringi oleh kebatilan. Bukankah sangat jelas pula bahwa kemudahan menyertai kesulitan. “Inna ma’al ‘usrii yusroo” (sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan), (QS. Al-Insyirah: 5). Usah resah akan fitnah yang bertandang jika diri sudah berjalan pada koridor yang tepat. Tak mestilah takut menggelayuti. Amat wajar kejujuran mendapat cobaan. Sudah lumrah kebenaran berteman dengan ujian. Semua sudah sunnatullah. Yang terpenting diri tahu bahwa pelaku fitnah alias ‘munafik’ tempatnya adalah Hawiah, lapisan terbawah dari tujuh neraka. Yang jelas diri paham akan firman-Nya dalam Al-Quran surah Al- Baqarah: 217 “Walfitnatu akbaru minal qotli” (Sedangkan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan)

Sekali lagi, tak perlu galau bila diri dilanda fitnah. Janji Allah itu pasti, bahwa “Innalloha ma’a sshoobiriin” (Sesungguhnya Allah bersama dengan orang yang sabar). Surah Al-Imran pada pembukaan tulisan di atas pun amat jelas menerangkan kepada kita bahwa kesabaran adalah kunci kemenangan. Tak perlu memikirkan dengan cara apa Dia akan menolong. Dia jauh lebih punya kuasa dibanding dengan penyebar fitnah. Dia amat tahu melalui cara apa hamba itu dimudahkan-Nya.

Jaga Allah, maka Allah akan menjagamu. Itulah janji-Nya. Betapa indah ia memberikan janji kepada hamba-Nya. Tentulah, Dia akan dating dengan cara yang lebih indah. Penulis teringat dengan sebuah hadits hasan lagi shahih, yang diriwayatkan oleh Tirmidzi: Dari Abul Abbas Abdullah bin Abbas RA berkata, “Suatu hari aku berada di belakang Nabi SAW lalu beliau bersabda, “Nak, akan aku ajarkan kepadamu beberapa patah kata, jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu, jagalah Allah, niscaya dia akan senantiasa bersamamu, dan bila engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah, jika semua umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu kebaikan padamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya, kecuali  yang telah ditulis oleh Allah bagimu,  dan jika semua umat manusia bersatu padu mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang ditulis oleh Allah bagimu. Pena telah diangkat dan catatan-catatan itu telah mengering.

Sungguh dahsyat susunan hadits yang disabdakan oleh Rasulullah. Mudah-mudahan terpetik banyak hikmah. Satu hal yang mesti ditekankan dalam diri bila fitnah benar-benar bertandang adalah bahwa kemenangan akan selalu mengiringi kesabaran. Bersabar terhadap fitnah yang menghampiri insya Allah jalan keluar akan tampak jelas. Wallohu’alam bissawwab.
Read more

Mendengar suatu berita fitnah yang menyayat hati dan menimpa keluarga, seketika nuarani tersayat mengingat Rasulullah saw. karena siapa lagi yang pantas diteladani selain seseorang yang akhir hayatnya pun menyebut nama kami, umatnya, masya Allah.

Suatu fitnah pernah menimpa istri Rasulullah saw, Aisyah ra ketika Aisyah tertinggal dari tandu yang membawanya karena mencari kalung yang diberikan Rasulullah dan salah seorang sahabat mengantar Aisyah untuk menyusul. Inilah yang menyulut fitnah.

Bagaimana Rasulullah menghadapi hal ini? Ketahuilah bahwa Rasulullah bersabar dengan tetap berusaha mengumpulkan bukti, namun ia pun tak membela Aisyah ra, istrinya. Rasulullah sangat objektif, ini pun menjadi sebuah pelajaran bahwa rasa cinta itu memang tak boleh berlebihan.

Hindarilah tersulut emosi ketika menghadapi fitnah, ‘fashabrun jamiil..!”. dan tak pula Rasulullah menyalahkan, pun menerima sementara berita yang tak pelak menyebar. Bahkan abu bakar pun mendiamkan aisyah putrinya, sampai kebenaran dari Allah datang menghampiri. subhanallah.

Ada beberapa hikmah yang menjadi mata ajar keteladanan dalam menghadapi fitnah:
  1. Bahwa memang tak boleh ada cinta yang berlebih selain kepada Allah. maka tak ada pembelaan melebihi membela Allah dan Islam.
  2. Bahwa bersabar adalah sikap yang terbaik dalam menghadapi fitnah atau musibah, bukan sebuah pembelaan. hanya kesabaran.
  3. Sungguh orang-orang yang tersulut berita fitnah tentang aisyah dan orang-orang yang senang adalah bukti Allah menyaring siapa saja hambanya yang munafik, fasik, dan lemah dalam kesabarannya.
  4. Rasulullah dan para sahabat tidak banyak berkomentar pun menanggapi fitnah tersebut, karena kesabaran mengarahkan beliau pada kehati-hatian dan itulah ciri taqwa.
  5. Sungguh dengan fitnah dakwah kepada Allah dan Islam tidak akan pernah surut atau pun terhenti. Maka tak ada ketakutan terhadap suatu makhluk melainkan kepada Allah swt. Maha suci Allah.
  6. Bahwa fitnah menjadi sebuah pelajaran besar bagi umat muslim, karena sikap terhadap menghadapi fitnah akan membuktikan siapa kita sebenarnya.
  7. Sungguh sekali lagi Allah mengingatkan janganlah berlebihan berkasih sayang atau mencintai sesuatu. Sungguh tingakatan cinta terawal hanya untuk Allah. Gantilah cinta berlebihan itu dengan kesabaran cinta yang tak diungkapkan dengan kata dan penyanjungan berlebihan terhadap manusia, meski ia orang tua bahkan istri atau suami.
  8. Sungguh menahan diri untuk tidak menyibukkan diri menanggapi fitnah, karena Rasulullah dan para sahabat tahu hal itu akan semakin membuatnya gundah dan menenggelamkan pada kesedihan bahkan perbuatan yang sia-sia. Jika Rasulullah menanggapi/membela, berapa banyak waktu yang disia-siakannya dan akan menurunkan kredibilitasnya sebagagai pemimpin.
  9. Rasulullah dan para sahabat menghindari kebencian, di hati seorang muslim sejati, tiap malamya tak akan menyimpan dendam, maka sikap dan sifat objektif membawa keselamatan kepercayaan umat dari hal yang pribadi.
  10. Sebagai orang yag terfitnah Aisyah pun menangis dan bersabar, ia adalah orang yang paling sakit pun Rasulullah mengacuhkannya, namun ia pasrah jika peristiwa itu memang menyatakan Aisyah bersalah maka siap menjalani hukuman Allah, sebagai ketaatan keputusan dan jika berita itu tidak benar, maka nyatalah hari ini memang hal tersebut adalah pelajaran besar.
  11. Waspada atau berhati-hati sungguh sifat ketaqwaan. Apapun yang dikerjkan dan dikatakan berhati-hatilah.

Read more
Duh kader-kader manja, maunya selalu mendapat, tapi enggan memberi.  Maunya diperhatikan, tapi tak mau memperhatikan. Maunya dihargai, tapi tak mau menghargai.

Duh kader-kader manja, merasa paling dibutuhkan dalam dakwah hingga tinggi hati menyerang niat nan suci. Merasa paling berkontribusi tapi lupa diri, bahwa yang diperbuatnya tak begitu berarti.

Duh kader-kader manja, masalah pribadi jadi masalah lembaga. Harusnya fokus memikirkan umat, tapi sibuk mengungkit masalah internal yang dibuat buat. Kapan kita geraknya sobat?

Duh Kader-kader manja, selalu enggan datang rapat, kalaupun datang pasti bilangnya “afwan telat”

Duh kader-kader manja, inginnya selalu instan. Ingin dapet jabatan. Ingin terlihat mapan. Kalau tidak berhasil jadinya menjauh dari perkumpulan. Barisan patah hati pun jadi bermunculan.

Duh kader-kader manja, ingin ini ingin itu tapi tak mau bergerak. Hanya bisa berteriak-teriak, duh sampe suaranya serak, tak banyak manfaat.

Duh kader-kader manja, senangnya mengkritisi tapi tak memberi solusi, panjang lebar berdiskusi tapi tak ada aksi.

Duh kader-kader manja, ternyata usia tak selalu berbanding lurus dengan kedewasaan. Bersikap seperti anak-anak padahal beban dakwah semakin banyak. Umat ini sedang butuh kontribusimu, jangan kau tambah lagi masalah umat dengan kemanjaanmu. Ingat, Komitmen kita di jalan dakwah ini akan Allah bayar, jauh lebih mahal dari materi yang selama ini kita kejar. Jadi jangan beralasan meninggalkannya hanya karena disibukkan dengan permasalahan-permasalahan pribadi. Syurga itu amat mahal takkan dapat dicapai dengan upaya seadanya saja. Buanglah sifat manja, buktikan bahwa kita kader-kader dakwah yang siap bekerja untuk umat dan bangsa. [dakwatuna.com 2/8/2011]. 


-----------------------------------------------------------------


Puisi & Syair
Oleh: Jupri Supriadi
Lahir pada tanggal 14 Februari 1990 disebuah desa di Kabupaten Bogor, tepatnya di kawasan Parung.
Saat ini sedang merantau untuk melanjutkan studinya di Universitas Gadjah Mada dan berdomisili di asrama Lembaga Pendidikan Insani (LPI) Yogyakarta. Sebelumnya menetap selama 3 tahun di Asrama MAN Insan Cendekia Serpong dan menjadi salah satu santri di sekolah tersebut.





Read more
Kesungguhan itu lawan dari main-main, yaitu sungguh-sungguh dalam suatu urusan dan memberikan perhatian yang lebih besar dari biasanya serta bersegera ingin menunaikannya.

Untuk menuju ke sana para aktivis dakwah dituntut memiliki semangat yang tinggi, memberikan segala kemampuannya, dan tidak boleh ragu-ragu ataupun berhenti di tengah jalan, atau bermalas-malasan di tengah perjalanan.

Biasanya, ketika meniti perjalanan yang panjang/se­mangat para aktivis dakwah melemah, tekad mereka mengendur, dan langkah mereka melamban. Pada saat itulah amal islami (pergerakan Islam) menjadi lemah dan berkurang  pengikutnya.

Sebagian mereka juga merasakan nikmatnya beristirahat dan rela dengan hal itu. Mereka merasa berat dengan beban dakwah dan tidak menyukainya, memperbanyak senda gurau dan tawa canda, serta bersenang-senang dengan pertemuan yang sepi dari semangat dan kesungguhan.

Mereka juga merasa nyaman dengan tidak ikut serta dalam kafilah jihad. Mereka tidur lelap dan rela dengan hanya memberi kontribusi yang sedikit. Mereka menyibukkan diri dengan urusan yang tidak penting dan melalaikan kewajiban yang sesungguhnya, serta lupa bahwa kewajiban itu lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Mereka rela dengan kontribusi minimal yang diberikan kepada dakwahnya, dan sudah menganggapnya sebagai kontribusi yang besar.

Karena itu, harus selalu dipompakan semangat yang tinggi dan kesungguhan yang benar agar kita mampu menunaikan amanah dan tanggung jawab kita serta sampai pada tujuan. al-Qur'an telah memuji sekelompok manusia yang beriman dengan iman yang sesungguhnya. Mereka menyingsingkan lengan baju, dan bersungguh-sungguh mencari keridhaan dari Allah. Allah Ta'ala berfirman,

“Mereka itu bersegera untuk melakukan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (aI-Mu'minun [23] : 61)

Yang harus diingat, ketika berbicara tentang semangat yang tinggi dan kesungguhan adalah kontribusi dan kesungguhan itu berbanding lurus dengan kedekatan seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam hadits qudsi Dia berfirman,

“Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Barangsiapa yang men­dekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan, apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.” (HR. Muslim, dalam kitab at-Taubah, Nomor 2675).

Para pemalas tidak sama dengan orang yang sungguh-sungguh dan memiliki semangat tinggi.

"Tidaklah sama antara Mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat..." (an-Nisa' [4]: 95)

Orang-orang yang memiliki semangat tinggi dan kesungguhan yang tulus, merekalah orang-orang yang berhak mengemban dakwah ini dan menyampaikannya kepada manusia. Karena itulah, pengemban dakwah yang sesungguhnya adalah mereka yang menghabiskan umurnya, mengorbankan hartanya, dan memberikan waktunya untuk kemenangan dakwah.

Asy-Syahid al-Banna mengatakan, “Adalah sebuah kesalahan jika ada yang menyangka bahwa Ikhwanul Muslimin adalah para da'i yang menyeru manusia kepada kemalasan dan keterlenaan. Ikhwan selalu menyerukan di setiap kesempatan bahwa seorang Muslim harus menjadi pelopor dalam segala sesuatu. Ikhwan tidak rela hidup tanpa qiyadah, tanpa amal, dan tanpa keunggulan dalam segala hal, baik dalam ilmu, kekuatan, kesehatan, maupun finansial. Sebab, keterbelakangan dalam suatu sisi dari berbagai sisi yang ada itu akan membahayakan fikrah kami dan bertentangan dengan ajaran Islam.”

Beliau juga mengatakan, “Sedikit sekali orang yang tahu ketika salah seorang da'i Ikhwan keluar dari tempat kerjanya pada hari Kamis sore, lalu pada waktu isya sudah berceramah di al-Manya. Di hari Jumat ia menyampaikan khotbah di Manfaluth, Jum'at sorenya berceramah di Asiyuth, dan setelah isya pada hari itu juga sudah berdakwah di Sauhaj, baru kemudian pulang. Pagi-pagi buta di keesokan harinya, ia sudah berada di tempat kerjanya di Kairo, bahkan mendahului karyawan lainnya.”


Surat Terbuka untuk Para Pemalas

Pemalas adalah orang yang tidak beruntung. Ia menghalangi dirinya dari pintu-pintu kebaikan yang sangat banyak. la terbuai dengan kenikmatan sementara yang dirasakan dari duduk-duduk dan istirahatnya. la lebih mengutamakan santai daripada menyiapkan diri untuk kehidupannya yang tersisa.

"Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan (kehidupan) akhirat." (al-Qiyamah [75]: 20-21)

Dia rela dengan kondisi dirinya. Rela dengan ketertinggalan dan kemalasannya. Seharusnya, dia bisa bangkit lebih tinggi. Sesungguhnya, kita tidak membutuhkan para pemalas. Kita hanya bisa menasihati dan mendoakan mereka. Kita ajak mereka untuk berpikir ulang. Mari kita lihat teman-teman dan saudara-saudara yang telah meninggalkan kita. Barangkali, kita bisa membangkitkan dan menguatkan kembali semangat mereka.

Kita tidak mungkin bisa mengingkari kematian atau orang-orang mati yang setiap hari kita antarkan ke liang lahat. Tidak dapat kita pungkiri bahwa kita kehilangan mereka untuk selamanya. Tidak dapat kita pungkiri juga bahwa di antara mereka ada yang masih muda dan ada pula yang sudah tua. Di antara mereka ada bayi-bayi yang tak berdosa dan wanita-wanita lemah. Di antara mereka ada yang mati dalam keadaan sehat dan ada pula yang mati karena sakit.

Mati adalah sebuah keniscayaan, mendatangi orang yang sudah tiba saatnya. Tidak ada yang mengetahui. Bisa jadi, kematian akan merenggut kita hari ini dan tidak bisa ditunda sampai hari esok. Pada saat itulah, tidak berguna lagi penyesalan.

"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata. 'Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan.'Sekali-kali tidak. Sesungguhnya, itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan." (al-Mu'minun [23]: 99-100)

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh.”(al-Munafiqun [63]: 10)

Maka, berbuatlah... dan berbuatlah.... Bersungguh-sungguhlah... dan bersungguh-sungguhlah..., sebelum kedatangan suatu hari yang tidak berguna lagi bagi seseorang kecuali apa yang sudah ia perbuat.

Semangat yang tinggi dan kesungguhan dalam sebuah aktivitas dapat memengaruhi derajat surga di antara orang-orang yang beriman.

"Tidaklah sama antara Mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar." (an-Nisa' [4]: 95)

Jangan seperti Mereka

1. Seperti yang difirmankan oleh Allah,
"Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya yang rendah. Maka, perumpamaannya seperti anjing. Jika kamu menghalaunya, diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya, dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka, ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir." (al-A'raf [7]: 175-176)

2. Orang yang kepergiannya tidak disukai oleh Allah, maka Allah melemahkan keinginan mereka.
"Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang...." (at-Taubah [9]: 87)
Sebabnya adalah hilangnya semangat dan tidak pergi berjihad.

"Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka, 'Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal (tidak pergi berperang) itu.” (at-Taubah [9]: 46)

3. Orang yang mencintai dunia sehingga mengalahkan akhirat.
"Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu, 'Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah' kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit" (at-Taubah [9]: 38)

Jadilah Seperti Orang-orang yang Menepati Janji dan Bersegera Meraih Kebaikan

Seperti yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala,
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang." (an-Nur [24]: 37)

"Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara me­reka ada (pula)yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya)." (al-Ahzab [33]: 23)

"Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya." (al-Mu'minun [23]: 61)

Tanda-tanda Kesungguhan dan Semangat Tinggi

- Bersegera menunaikan shalat, "Bangkitlah untuk shalat ketika kalian mendengar panggilan shalat, apa pun keadaan kalian."
- Berkomitmen untuk menghadiri semua pertemuan dan disiplin di dalamnya.
- Merespons dengan cepat instruksi-instruksi mendadak yang diberikan.
- Bersegera menginfakkan harta untuk kepentingan dakwah.
- Tidak berjalan bersama para pemalas dan orang-orang yang suka meninggalkan dakwah.
- Menggunakan seluruh potensi yang dimiliki untuk kepentingan umat dan dakwah.

Sumber: Memperbarui Komitmen Dakwah (Muhammad Abduh)
Read more

Copyright © 2012, BitsaMedia Allrights Reserved - Magazine World Theme - Designed by Uong Jowo Redesigned by Kusriyanto