You are browsing with label: Tampilkan postingan dengan label Dasar-dasar Islam. Tampilkan semua postingan

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. Al-Baqarah:185)

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

"Rasulullah saw. bersabda: Allah Taala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jemaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari."(HR. Bukhori-Muslim)



“Orang yang paling berbaik sangka kepada  adalah orang yang paling taat kepada-Nya.” (Ibnu Qayyim dalam Al-Jawab Al-Kaafi).

Info negative tentang saudara sesame muslim perlu di cek terlebih dahulu

"Hubungan yang baik antara satu dengan lain dan khususnya antara muslim yang satu dengan muslim lainnya merupakan sesuatu yang harus dijalin dengan sebaik-baiknya. Ini kerana Allah telah menggariskan bahawa mukmin itu bersaudara.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Itulah sebabnya, segala bentuk sikap dan sifat yang akan memperkukuh dan memantapkan persaudaraan harus ditumbuhkan dan dipelihara, sedangkan segala bentuk sikap dan sifat yang dapat merusak ukhuwah harus dihilangkan. Agar hubungan ukhuwah islamiyah itu tetap terjalin dengan baik, salah satu sifat positif yang harus dipenuhi adalah husnuzh zhan (berbaik sangka). Oleh kerana itu, apabila kita mendapatkan informasi negatif tentang sesuatu yang terkait dengan peribadi seseorang apalagi seorang muslim, maka kita harus melakukan tabayyun (penyelidikan) terlebih dahulu sebelum mempercayainya apalagi meresponnya secara negative.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

" Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (QS 49:6)

Manfaat Husnudzdzon

1. Hubungan persahabatan dan persaudaraan menjadi lebih baik, perkara ini kerana berbaik sangka dalam hubungan sesama muslim akan menghindari terjadinya keretakan hubungan. Bahkan keharmonisan hubungan akan semakin terasa kerana tidak ada halangan psikologis yang menghambat hubungan itu.

2. Terhindar dari penyesalan dalam hubungan dengan sesama kerana buruk sangka akan membuat seseorang menimpakan keburukan kepada orang lain tanpa bukti yang benar, Allah berfirman sebagaimana yang disebutkan pada Surah Al-Hujuraat Ayat 6 di atas.

3. Selalu berbahagia dan senang atas segala kemajuan yang dicapai orang lain, meskipun kita sendiri belum dapat mencapainya, perkara ini memiliki arti yang sangat penting, kerana dengan demikian jiwa kita menjadi tenang dan terhindar dari iri hati ,

Kerugian Berburuk Sangka (Su’uzh Zhan)

1. Mendapat Nilai Dosa
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa.” [QS. Al-Hujurat (49): 12]

2. Dusta Yang Besar

“Jauhilah prasangka itu, sebab prasangka itu pembicaraan yang paling dusta.” (HR. Syaikhon)

3. Menimbulkan Sifat Buruk

Berburuk sangka kepada orang lain tidak hanya berakibat pada penilaian dosa dan dusta yang besar, tapi juga akan mengakibatkan munculnya sifat-sifat buruk lainnya yang sangat berbahaya, baik dalam perkembangan pribadi maupun hubungannya dengan orang lain. Sifat-sifat itu antara lain ghibah, kebencian, hasad, menjauhi hubungan dengan orang lain, dan lain-lain.

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَالْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَالْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ

“Hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga. Selama seseorang benar dan selalu memilih kebenaran, dia tercatat di sisi Allah seorang yang benar (jujur). Hati-hatilah terhadap dusta, sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seseorang dusta dan selalu memilih dusta, dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Bukhari)

Penelitian Ilmiah tentang perkataan baik

Masari Emoto  dalam bukunya “the hidden messages in water”. beliau meneliti pengaruh kata terhadap nasi yang dimasukkan dalam toples dan masing-masing ditulisi kata yang berbeda.

1. Toples yang ditulisi kata “terima kasih” tidak basi,
2. Toples yang ditulisi kata “kamu bodoh” cepat basi bahkan warnanya sudah berubah menjadi kehitaman.

Berbaik sangka terhadap masalah

Laa Yukallifullahu nafsan Illaa Wus ‘aha”. “Sesungguhnya Allah tidak akan menguji hambanya diluar batas kemampuannya. BAgus banget kan. Dan sudah jelas semua maknanya.

Pemahaman tentang Hukum Tarik Menarik atau “The Law of Attraction”)


  • Kita semua selalu berhubungan dengan sebuah kekuatan tanpa batas.
  • Apapun yang sedang Anda pikirkan itulah yang Anda sedang tarik.
  • Anda seperti magnet. Anda menjadi dan menarik apa yang Anda pikirkan.
  • Kebanyakan orang berpikir apa yang tidak mereka inginkan dan menarik hal yang tidak disukainya itu.
  • Pikiran = menciptakan. Jika pikiran tersebut melekat pada emosi kuat yang baik atau buruk maka akan terjadi percepatan proses penciptaan.
  • Seseorang yang berbicara banyak tentang penderitaan akan menderita (mengeluh). Seseorang yang berbicara banyak tentang kesejeahteraan akan hidup sejahtera.
  • Perasaan Anda diakibatkan oleh apa yang Anda pikiran.
  • Apapun yang Anda rasakan adalah refleksi yang sempurna dari apa yang ada dalam proses penciptaan.
  • Apa yang Anda fokuskan dalam pikiran dan perasaan Anda adalah apa yang Anda tarik dalam apa yang Anda akan alami.
  • Anda dapat mengubah emosi Anda dengan cepat dengan memikirkan sesuatu yang menyenangkan, menyanyi lagu yang Anda sukai atau mengingat peristiwa yang menggembirakan.
  • Apa yang dapat Anda lakukan sekarang untuk mengubah hidup Anda? Bersyukurlah!
  • Bersyukur akan segera membawa lebih banyak perubahan dalam hidup Anda.
  • Apa yang kita pikirkan dan syukuri adalah apa yang kita hasilkan.
  • Dalam hal apakah sajakah Anda diberkati? Fokus pada apa yang Anda miliki sekarang karena itu merupakan berkat bagi Anda.
  • Bayangkan - fokuslah pada hasil akhir!


Read more

Islam adalah agama rahmatan lil alamin, yang menjaga nilai – nilai kehidupan masyarakat manusia. Manusia sebagai makhluk social tidak lepas dari interaksi antar manusia. Dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pengertian Hasad

Suatu kecenderungan seorang yang berharap agar nikmat yang diperoleh orang lain hilang. (Ibnu Hajar dalam fathul bari).

Ulama lain menambahkan; yaitu adanya harapan agar nikmat tersebut beralih padanya.

Sikap mengharap hilangnya sebuah nikmat dari pemiliknya, yang diiringi dengan usaha untuk menghilangkannya. (Al-Isfahani, Mufrodat alfadz al-qur'an)

Larangan melakukan sifat Dengki;

"Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya." (QS. An-Nisa/4;32)

Imam Syaukani berkata; "dalam ayat ini terdapat larangan bagi manusia untuk berangan-angan memiliki sesuatu yang dikaruniakan Allah kepada orang lain, karena itu bentuk ketidak ridhoan seorang hamba terhadap bagian yang telah Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya".(Tafsir Fathul Qodir)

Sayyid Qutb berkata; ayat ini berindikasi umum tentang larangan untuk berkeinginan terhadap berbagai bentuk karunia yang telah Allah berikan kepada orang lain yang mukmin (karunia dalam tugas, jabatan, skill, kapabilitas, harta, dll)

Akan lebih baik jika kita lebih memfokuskan permohonan & permintaan kita akan karunia Allah SWT tersebut langsung kepada-Nya daripada berkeluh kesah dan buruk sangka dengan ketidak adilan-Nya (Tafsir Fi Dzilalil Qur'an)

Dengki Merupakan Kemaksiatan Pertama makhluk Allah

61. Dan (ingatlah), tatkala kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu semua kepada Adam", lalu mereka sujud kecuali iblis. dia berkata: "Apakah Aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?"

62. Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan Aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil". (QS.Al-Isra/17;61-62)

Berkata Iblis: "Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau Telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk" (QS./ Al-Hijr/15;33)

Manusia pelopor pelaku sifat dengki

27. Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang Sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia Berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah Hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".

28. "Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, Aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya Aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam."

29. "Sesungguhnya Aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, Maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian Itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim."

30. Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, Maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi. (QS. Al-Ma'idah/5;27-30)

 Sebagian Besar Ahli Kitab adalah Pendengki;

Sebahagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, Karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [QS. Al-Baqarah/2;109]

Hakekat Dengki;

Hasad adalah implikasi dari dendam, dan memiliki unsure-unsur buruk yang tak terhingga.
Substansi hasad adalah kebencian terhadap nikmat dan ketidak puasan terhadap ketetapan pemberian keutamaan dari Allah kepada beberapa hamba yang melebihi lainnya.
Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. (QS. Ali Imran;120)

Read more

Oleh: H. Sumedi Abdul Latif, Lc.



ولا تجسسوا ولا يغتب بعضكم بعضا، أيحب أحدكم أن يأكل لحم أخيه ميتا فكرهتموه


".... Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya." (QS. Al-Hujurat: 12)

Dari Qois, ia berkata, 'Amru bin 'Ash ra pernah melewati bangkai seekor bighol (hasil perkawinan silang antara kuda dan keledai), maka beliau berkata, "Demi Allah, salah seorang dari kalian memakan daging bangkai ini (hingga memenuhi perutnya) itu masih lebih baik baginya daripada memakan daging saudaranya (yang muslim). (Riwayat Al-Bukhori)

Definisi Ghibah

Syaikh Salim al-Hilali berkata, "Ghibah adalah menyebutkan aib (saudaramu) pada saat ia sedang tidak ada di tempat.

إن الحسنات يذهبن السيئات

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda," Tahukah kalian apa itu ghibah?" Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Nabi saw berkata, "Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu." Lalu Nabi saw ditanya, "Bagaimana pendapatAnda jika hal ini memang benar ada padanya?" Nabi saw menjawab,"Kalau memang benar, berarti engkau telah melakukan ghibah terhadapnya. Namun jika tidak benar, berarti engkau telah mengadakan dusta atas dirinya." (Riwayat Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi dll)

Bentuk-bentuk Ghibah;

Ghibah untuk menyesuaikan diri dengan teman-temannya.
Ghibah dalam bentuk agama dan kebaikkan. Contohnya: "Ya Allah, Jauhkan kami dari membicarakannya, semoga Allah mengampuni kita dan dia". Namun niat sebenarnya adalah merendahkan individu bersangkutan.

Ghibah untuk menjatuhkan orang lain dan mengangkat dirinya sendiri. Misalnya ia berkata," Seandainya tadi malam aku berdo'a dalam sholatku untuk si fulan, ketika sampai kepadaku kabar tentang dia melakukan begini dan begitu.."

Melakukan ghibah karena hasad (dengki)
Melakukan ghibah dalam bentuk ejekan dan mainan untuk membuat orang lain tertawa
Menampakkan ghibah dalam bentuk keheranan dan sikap takjub. Misalnya " Aku heran dengan Fulan, kok gitu aja ga bisa sih..."

Melakukan ghibah dalam bentuk rasa sedih. Misalnya " kasihan si Fulan aku sedih dengan apa yang dilakukannya.." Orang lain yang mendengar merasa bahwa si pembicara sedang sedih, padahal sebenarnya isi hati si pembicara dipenuhi rasa dendam jika mampu ia akan menambah-nambahi kejelekannya.

Ghibah dalam bentuk kemarahan dan pengingkaran terhadap kemungkaran. Dia menampakkan kata-kata yang indah (untuk melakukan ghibah terhadap saudaranya dengan alasan mengingkari kemungkaran, padahal maksudnya bertentangan dengan apa yang ia tampakkan.

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّرِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِيْ أَيْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, serta melakukan tindakan bodoh, maka Allah tidak membutuhkan puasanya, meskipun yang bersangkutan meninggalkan makan dan minumnya. "

وإذا رأيت الذين يخوضون في ءايتنا فأعرض عنهم حتى يخوضو في حديث غيره، وإما ينسينك الشيطان فلا تقعد بعد الذكرى مع القوم الظالمين

"Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat kami, Maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), Maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)." (QS. Al-An'am:68)

Imam Nawawi berkata dalam al-adzkaar, "Ketahuilah, sebagaimana ghibah itu diharamkan bagi pelakunya, maka diharamkan juga bagi orang yang mendengarkan dan menyetujuinya. Maka wajib bagi siapa saja yang mendengar seseorang berghibah untuk melarang orang tersebut, kalau dia tidak khawatir terhadap mudhorot yang jelas.

Taubat dari Ghibah

Jika objek ghibah mengetahui bahwa engkau melakukan ghibah terhadapnya, maka engkau harus datang kepadanya dan meminta agar dia merelakan perbuatanmu.

Jika dia tidak tahu, tidak usah mendatanginya tapi memohon ampunan untuknya dan membicarakan kebaikan-kebaikannya di tempat engkau melakukan ghibah terhadapnya. Karena sesungguhnya kebaikan itu dapat menghilangkan kejelekan.

Cara Menghindar dari Ghibah

Sadar bahwa segala ucapan semuanya dicatat dan akan dimintai pertanggungjawabannya dihadapan Allah

ما يلفظ من قول إلا لديه رقيب عتيد

"Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat Pengawas yang selalu hadir." (QS. Qoof : 18)

Jika tidak menjaga lisan berakibat fatal. "Sungguh, seorang hamba benar-benar mengatakan suatu kalimat yang mendatngkan murka Allah tanpa mempeduliknya, akibatnya dia terjerumus dalam neraka Jahannam disebabkan kalimat tersebut."(HR. Al-Bukhori)
Ada orang yang berkata kepada Imam Ahmad bin Hanbal, "Aku merasa berat untuk berkata,'Si Fulan begini, si fulan begitu...' Maka Imam Ahmad berkat :

إِذَا سَكَتَّ أَنْتَ وَسَكَتُّ أَنَا فَمَتَى يَعْرِفُ الْجَاهِلُ الصَّحِيْحُ مِنَ السَّقِيْمِ

'Jika engkau diam (tidak memberi penjelasan) dan aku juga diam, maka kapankah orang yang bodoh dapat membedakan antara yang benar dari yang salah?!"

Ghibah dibolehkan kepada seseorang yang terang-terang menampakkan kefasikan atau kebid'ahannya. Seperti orang yang terang-terangan minum khamer, berbuat dzolim dsb. Dalam hal ini boleh menyebutkan kejelekannya. Dalilnya:

عَنْ ‘َائِشَةَ أَنَّ رَجُلاً اسْتَأْذَنَ عَلَى النًَّبِيِّ فَقَالَ ائْذَنُوْا لَهُ، بِئْسَ أَخُوْا الْعَشِيْرَةِ

'Aisyah berkata, "Seorang pria pernah datang meminta izin untuk menemui Nabi saw, Maka Nabi saw bersabda, 'Izinkanlah ia, ia adalah sejahat-jahat orang di tengah kaumnya." (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Namun diharamkan menyebutkan aib-aib yang tidak nampak, kecuali ada sebab lain yang membolehkannya.

Untuk identifikasi (pengenalan). Jika seseorang memang terkenal dengan gelar tertentu (si rabun, si pincang dll) maka boleh disebutkan. Dan diharamkan menyebut gelar tersebut dalam rangka merendahkan.

Bagaiman Hukumnya Jika Objek Ghibah adalah Orang Kafir?

Imam ash-Shon'ani berkata," perkata Rasulullah saw  (dalam hadits Abu Hurairoh): أَخَاكَ  (saudaramu) maksudnya saudara seagama, sehingga merupakan dalil bahwa selain mukmin boleh dighibahi."

Jika kita memberikan julukan jelek kepada saudara kita, namun ia tidak membenci julukan tersebut, itu tidak termasuk ghibah

Syaikh Salim al-Hilali berkata," Jika kita telah mengetahui hal itu (orang yang dipanggil julukan buruk, namun ia tidak membenci julukan itu) bukanlah termasuk ghibah yang haram. Hanya saja orang yang memanggil saudaranya dengan julukan buruk telah tercantum dalam larangan Al-Qur'an:

ولا تلمزوا أنفسكم ولا تنابزوا بالألقاب

"...Dan janganlah kalian saling panggil-memanggil dengan julukan yang buruk..." (QS. Al-Hujuraat: 11)

Hukum Ghibah

كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَ عِرْضُهُ

"Setiap Muslim terhadap muslim lainnya adalah haram, baik darahnya, hartanya, maupun harga dirinya." (Riwayat Muslim)

Hukum ghibah adalah haram berdasarkan al-Kitab dan as-Sunnah serta consensus kaum muslimin (ijma). Namun terjadi sedikit perbedaan pendapat dikalangan ulama, apakah ghibah termasuk dosa besar atau dosa kecil?

Dalil-Dalil yang Menunjukkan bahwa Ghibah Merupakan Dosa Besar

1. Ghibah termasuk riba yang paling berat, sedangkan riba merupakan dosa besar.

إِنَّ مِنْ أَرْبَى الرِّبَا الاِسْتِطَالَةُ فِي عِرْضِ الْمُسْلِمِ بِغَيْرِ حَقٍّ

”Sesungguhnya termasuk riba yang paling parah adalah mengulurkan lisan terhadap kehormatan seorang muslim tanpa hak"  (Riwayat Abu Daud)

2. Pelaku ghibah akan disiksa dengan adzab yang sangat pedih.

Anas bin Malik ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda : "Pada malam Isro Mi'raj aku melewati sebuah kaum yang mencakar wajah-wajah mereka dengan kuku-kuku mereka. Maka aku bertanya, 'Siapakah mereka ya Jibril?' Jibril menjawab, 'mereka adalah orang-orang yang melakukan ghibah terhadap manusia dan menodai kehormatan mereka.'"

3. Pelaku ghibah puasanya sia-sia.

Menyadari bisa jadi orang yang dighibahi kedudukannya di sisi Allah lebih mulia. Sehingga ucapan tersebut sangalah ringan di lisan, ternyata sangatlah berat di sisi Allah.

"(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. padahal dia pada sisi Allah adalah besar." (QS. An-Nuur: 15)

Menyadari bahwa satu kalimat ghibah akan menghancurkan pegunungan kebaikan yang telah dikumpulkan dengan penuh perjuangan dan keletihan selama bertahun-tahun.

"Barangsiapa yang melakukan kedzoliman kepada seseorang, baik berkaitan dengan harga diri seseorang atau selainnya, maka hendaklah ia meminta yang bersangkutan untuk menghalalkannya pada hari ini, sebelum datang hari yang tidak ada dinar dan tidak juga dirham. Jika ia memiliki amal sholeh, maka akan diambil darinya sesuai dengan ukuran kedzolimannya. Dan jika ia tidak memiliki kebaikan, maka akan diambil kejelekan-kejelekan orang tersebut dan dipikulkan kepadanya." (Riwayat Bukhori)

Ghibah yang Dibolehkan

Syaikh salim al-Hilali berkata, "Ghibah dibolehkan untuk tujuan yang benar, yang syar'i, yang tidak mungkin bisa dicapai tujuan tersebut kecuali dengan ghibah tersebut.

1. Pengaduan terhadap kedzoliman. Dibolehkan bagi orang yang teraniaya untuk mengadu kepada penguasa atau hakim.

"Allah tidak menyukai Ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. An-Nisaa: 148)

2. Minta bantuan untuk mengubah kemungkara. Seseorang dibolehkan berkata kepada orang yang bisa diharapkan untuk menghilangkan kemungkaran. Yang menjadi tujuan adalah menghilangkan kemungkaran, jika niatnya tidak demikian, maka hukumnya menjadi haram.

3. Meminta fatwa.

Dari 'Aisyah, ia berkata: Hindun, istri Abu Sofyan berkata kepada Nabi saw, "Sesungguhnya Abu Sofyan seorang yang kikir dan tidak mempunyai cukup belanja untukku dan anak-anakku kecuali jika aku ambil diluar pengetahuannya." Maka Nabi saw bersabda, "Ambillah apa yang cukup untukmu dan untuk anak-anakmu dengan cara yang baik (ma'ruf), tidak kurang dan tidak lebih." (Riwayat Bukhori dan Muslim)

4. Memperingatkan kaum muslimin dari kejelekan. Jika ghibah disampaikan dalam bentuk nasehat untuk Allah dan Rasul-Nya serta kaum muslimin, maka itu merupaka qurbah (ibadah) kepada Allah sekaligus merupakan kebaikan.


Read more



PKSTaktakan.org - Sayyid Qutb menyatakan dalam tafsirnya Fi Zhilalil Qur’an, bahwa satu-satunya surah yang Allah turunkan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pada masa-masa sulit dalam sejarah dakwah dan kehidupannya, adalah surah Yusuf. Surah ini diturunkan antara ‘amul huzni (tahun duka cita karena kematian Abu Thalib dan Khadijah) dan antara baiat Aqabah pertama yang dilanjutkan dengan Baiat Aqabah kedua. Pada saat itu selain mengalami kesedihan karena ditinggal dua orang yang menjadi sandarannya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga mengalami kesedihan akibat pengasingan dan keterputusan hubungan di tengah-tengah masyarakat Quraisy.

Maka Allah menceritakan kepada Nabi-Nya yang mulia ini kisah Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim, yang juga mengalami berbagai macam ujian dan cobaan. Yaitu ujian berupa tipu daya dari saudara-saudaranya, dimasukkan ke dalam sumur dengan penuh rasa takut. Kemudian menjadi budak yang diperjual belikan dari satu tangan ke tangan yang lain, dengan tidak ada perlindungan dari orang tua dan keluarganya. Setelah itu ia diuji dengan tipu daya dari istri penguasa Mesir. Selanjutnya ia diuji dengan dimasukkan ke dalam penjara setelah sebelumnya hidup dalam kelapangan dan kemewahan di istana sang penguasa.

Setelah diuji dengan kepahitan, berikutnya Yusuf diuji dengan kemakmuran dan kekuasaan yang mutlak ditangannya, mengatur urusan pangan dan perekonomian masyarakat. Akhirnya ia diuji berupa rasa kemanusiaan dalam menghadapi saudara-saudaranya yang dahulu telah memasukkannya ke dalam sumur dan merekalah yang menjadi sebab bagi ujian-ujian dan penderitaan dalam hidupnya.

Semua ujian dan cobaan itu dihadapi Yusuf dengan sabar sambil terus mendakwahkan Islam dari celah-celahnya. Pada akhirnya ia dapat lepas dari semua ujian dan cobaan itu.

Surah ini, kata Sayyid Qutb, bertujuan untuk menyenangkan, menghibur, dan menenangkan serta memantapkan hati orang terusir, terisolir, dan menderita, yakni Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Didalamnya diisyaratkan tentang berlakunya sunnah Allah ketika para rasul sudah merasa putus asa menghadapi kaumnya, bahwa akan ada jalan keluar yang membawa kepada kegembiraan yang didambakan setelah sekian lama mengalami ujian dan cobaan.[1]

Ahsanul Qasasi


Surah Yusuf disebut oleh Allah Ta’ala sebagai ahsanul qasasi (kisah yang paling baik),  karena di dalamnya banyak mengandung ‘ibrah (pelajaran) bagi orang-orang yang mempunyai akal.


Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf, 12: 111).


Secara khusus surah ini pun menjadi bekalan yang sangat berharga bagi harakah Islamiyah di masa kini untuk menyiapkan kesabaran di atas kesabaran dalam mengarungi kehidupan, terlebih lagi dalam mengarungi kehidupan perjuangan di jalan Allah.

Sedikitnya ada delapan pelajaran berharga yang dapat kita ambil dari surah Yusuf ini,

Pertama, pelajaran tentang perlunya mewaspadai kaum pendengki dengan cara merahasiakan berita yang mungkin dapat mengusik mereka.


Ucapan Ya’qub kepada Yusuf yang dimuat dalam ayat 4 – 5 menggambarkan hal ini:

(Ingatlah), ketika Yusuf Berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, Sesungguhnya Aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

Ibnu Katsir mengatakan bahwa Ya’qub mengkhawatirkan Yusuf akan menceritakan mimpinya kepada salah seorang saudaranya, padahal mimpi itu dapat menimbulkan kedengkian diantara mereka, karena takwil mimpi itu menggambarkan ketundukan, penghormatan, pengagungan, dan pemuliaan mereka kepada Yusuf dengan berlebihan hingga mereka tersungkur sambil bersujud.

Ayat ini memberikan pelajaran kepada harakah Islamiyah untuk berhati-hati dalam menyampaikan materi dakwah. Tidak semua berita harus diberitakan segera. Tidak semua ilmu harus disampaikan segera. Adakalanya berita-berita harus ‘disembunyikan’ untuk menghindarkan diri dan jama’ah dari kemudharatan yang mungkin timbul. Apalagi kaum pendengki senantiasa mencari celah untuk menghantam dan melemahkan harakah Islamiyah.

Islam bahkan mengajarkan, kadang-kadang bukan hanya ‘berita buruk’ saja yang harus disembunyikan, tetapi juga ‘berita baik’.

Masih ingat kisah Abu Hurairah dan sandal Rasulullah? Perhatikanlah kisah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ini:

Suatu hari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan sandal beliau kepada Abu Hurairah seraya berkata, “Hai Abu Hurairah, pergilah kamu, bawa sandalku ini. Lalu, siapa saja yang kamu temui di balik tembok ini,  yang telah menyatakan bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah, dengan sepenuh keyakinan hatinya, maka berilah kabar gembira kepadanya, dia akan masuk surga.”

Maka yang pertama-tama ditemui Abu Hurairah ialah Umar bin Khattab. Dia bertanya, “Apa maksud sepasang sandal ini, Hai Abu Hurairah?” Abu Hurairah menjawab: “Ini sandal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menyuruh aku membawanya (dengan pesan), siapa saja yang aku temui telah menyatakan, bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah dengan sepenuh keyakinan hatinya, maka aku beri kabar gembira, dia bakal masuk surga.”

Mendengar hal itu, tiba-tiba Umar menghantamkan tangannya ke dada Abu Hurairah sampai ia jatuh terduduk, seraya berkata, “Kembali, hai Abu Hurairah!”. Maka Abu Hurairah pun kembali menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam setengah menangis, sementara Umar membuntutinya.

“Kenapa kamu hai Abu Hurairah?” Tanya Rasul kepada Abu Hurairah. Ia menjawab, “Saya bertemu Umar, lalu saya beritahu dia apa yang telah tuan perintahkan kepadaku, tapi tiba-tiba dia memukul dadaku sampai aku jatuh terduduk, seraya menyuruh aku kembali.”

“Hai Umar,” Rasul bertanya kepada Umar, “Kenapa kamu melakukan seperti ini?”

Umar menjawab, “Ya Rasulullah, aku tebus engkau dengan ayah bundaku, benarkah engkau menyuruh Abu Hurairah membawa sandalmu (dengan berpesan), barangsiapa yang dia temui telah menyatakan tiada Tuhan melainkan Allah dengan sepenuh keyakinan hatinya, maka dia beri kabar gembira bakal masuk surga?”

“Benar,” jawab Rasul. Maka Umar menyarankan, “Jangan lakukan itu. Karena saya benar-benar khawatir orang-orang akan mengandalkan kata-kata itu saja. Sebaiknya, biarkanlah mereka beramal.” Akhirnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Kalau begitu, biarkan mereka.”

Dari hadits ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa realita pemahaman masyarakat kadang-kadang mengharuskan kita untuk sabar dan tidak tergesa-gesa dalam melaksanakan tahapan ini atau itu dalam berdakwah.

Kita hendaknya menyampaikan dakwah hanya kepada orang yang telah siap mendengarkan dan menghargainya serta memahami di mana posisi dari perkara yang diserukan dalam Islam secara keseluruhan.

Sudah seharusnya pula kita menyampaikan dakwah pada saat yang tepat, pada tempat dan kerangka yang bisa memperjelas hakekat dan arti sebenarnya dari perkara yang diserukan tersebut, serta dapat menghilangkan keraguan yang mungkin terjadi. Jangan sampai dakwah menimbulkan kesalahfahaman orang terhadap sistem Islam, karena ada masalah-masalah yang baru bisa difahami setelah memahami dulu masalah-masalah lainnya.

Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menyetujui pandangan Umar untuk mencegah tersebarnya kabar gembira seperti di atas di kalangan orang banyak saat itu. Meskipun akhirnya Abu Hurairah menyampaikan juga hadits ini, tentu saja ketika dia tahu telah tiba saatnya yang tepat bagi kaum muslimin untuk memahaminya secara tuntas.[2]

Kembali lagi pada masalah kewaspadaan terhadap kaum pendengki, dalam ayat ini pun di isyaratkan bahwa kaum pendengki itu tidak selalu berasal dari kalangan eksternal, tapi mungkin juga datang dari kalangan internal.

Walaupun memiliki hubungan darah, saudara-saudara Yusuf ternyata merasa cemburu, iri, dan dengki, sehingga tega merencanakan makar dengan didasari kepentingan yang sama. Mereka merekayasa tipu daya, kebohongan, bersandiwara, dan mengajukan bukti-bukti palsu demi untuk memuaskan kedengkian mereka kepada Yusuf. Bahkan saking dengkinya, diantara saudara-saudara Yusuf ada yang mengusulkan upaya pembunuhan terhadap Yusuf. (lihat: surah Yusuf ayat 8 – 18).

Kedua, pelajaran tentang pentingnya menghadirkan kesabaran dalam menghadapi makar musuh.


Di jalan dakwah ini, seorang aktivis harus memiliki kesiapan mental untuk menghadapi makar para pendengki dan musuh dakwah. Karena makar itu adakalanya mencoreng kehormatan dan menjadikan mereka terhina. Namun yakinilah, selama mereka ikhlash dalam melangkah, Allah Ta’ala akan senantiasa membimbing dan menolongnya. Apalagi cobaan itu hanyalah untuk sementara waktu saja sifatnya.

Kisah dalam surah Yusuf mengajarkan bahwa harus ada kesabaran di atas kesabaran dalam menghadapi ujian dan cobaan. Yusuf setelah dimasukkan ke dalam sumur dan dipungut oleh kafilah dagang, dijadikan budak belian yang begitu terhina. Bahkan di ayat 20 disebutkan, beliau dijual dengan harga yang murah,

“Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf.”

Sesungguhnya kesabaran itu akan menggiring kita pada kebangkitan. Makar para pendengki kadang menjadi kesempatan bagi para da’i untuk mengkonsolidasikan kekuatan. Ia menjadi wahana tarbiyah rabbaniyyah dalam rangka mematangkan kesiapannya mengarungi medan yang lebih luas.

Lihatlah Yusuf, karena kesabarannya kemudian Allah menyiapkan untuknya seorang pembeli dari Mesir yang akan memperhatikan dan memuliakannya. Yusuf ditempatkan oleh Allah di negeri Mesir lalu dikuatkanlah ia dengan hikmah dan ilmu, “…dan agar kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. Dan tatkala dia cukup dewasa, kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Yusuf, 12: 22).

Tentang ayat ini Sayyid Qutb berkata, “Inilah Yusuf! Saudara-saudaranya menghendaki sesuatu terhadapnya, tetapi Allah menghendaki sesuatu yang lain untuknya. Karena Allah itu berkuasa atas segala urusan-Nya. Sedangkan saudara-saudara Yusuf, mereka tidak berkuasa atas urusan mereka sehingga Yusuf dapat lepas dari tangan mereka dan bebas dari apa yang mereka kehendaki terhadapnya…”

Jadi, makar kaum pendengki kadang malah jadi penghantar menuju kemenangan dan kemuliaan dari Allah. Makar yang mereka rencanakan dijadikan jalan oleh Allah untuk menggenapkan rencana-rencana-Nya.

“Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.” (QS. An-Naml, 27: 50)

Allahu Akbar wa lillahil hamd!

Ketiga, pelajaran tentang kesadaran akan keniscayaan ujian yang akan datang silih berganti.


Karena ujian adalah sunnatullah yang pasti berlaku dan tidak mungkin dihindari.

Di jalan dakwah ini para da’i pasti mengalami ujian berupa hambatan, rintangan, dan godaan. Semuanya akan datang berturut-turut silih berganti. Yusufpun mengalami hal itu. Setelah sejenak bernafas lega dapat tinggal di istana, datanglah godaan menghampirinya: godaan wanita!

“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: ‘Marilah ke sini.’ Yusuf berkata: ‘Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.’ Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih.” (QS. Yusuf, 12: 23 – 24)

Namun dengan bekal keimanan, Yusuf mampu menghindarkan dirinya dari perbuatan tercela itu. Ayat ini tidaklah menunjukkan bahwa Yusuf. punya keinginan yang buruk terhadap wanita itu (Zulaikha), akan tetapi godaan itu demikian besarnya sehingga andaikata dia tidak dikuatkan dengan keimanan kepada Allah s.w.t tentu dia jatuh ke dalam kemaksiatan.

Potongan ayat ini menamkan pelajaran yang berharga kepada para pengemban dakwah, bahwa mereka harus selalu waspada pada setiap godaan dunia. Mereka harus selalu memperkuat sikap ihsan. Jangan sampai mengalami disorientasi dalam kehidupan. Dengan demikian mereka perlu melakukan tazkiyatu nafs secara berkesinambungan agar tidak mudah tergoda dunia.

Penolakan Yusuf tersebut ternyata berbuntut panjang. Wanita penggoda Yusuf itu menimpakan kecelakaan berikutnya dengan melemparkan tuduhan keji kepadanya. Jadilah Yusuf tertuduh.

“Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata: ‘Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?’ (QS. Yusuf, 12: 25)

Inilah konsekwensi sikap konsisten pada kebenaran. Bersiaplah dengan fitnah-fitnah yang akan datang. Bersabarlah. Bertahanlah dalam kebenaran. Allah pasti menolong hambanya yang berpegang teguh pada kebenaran dalam situasi sesempit apa pun.

Lihatlah Yusuf, dalam keadaan terpojok dengan tuduhan keji dan berusaha membela diri, ternyata Allah berkenan membelanya dengan cara mendatangkan orang-orang yang adil dan bersikap objektif. Bahkan orang yang menjadi pembela tersebut berasal dari lingkungan keluarga wanita penuduh itu sendiri.

“Yusuf berkata: ‘Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)’, dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: ‘Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, Maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.’ (QS. Yusuf, 12: 26-27).

Yusuf kemudian diminta merahasiakan kejadian yang memalukan itu (lihat: ayat 29). Tetapi tetap saja berita itu tersebar luas di masyarakat. Meskipun ia tidak bersalah, namun gosip itu tetap saja membuatnya tidak nyaman.

“Dan wanita-wanita di kota berkata: ‘Isteri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), Sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.’ (QS. Yusuf, 12: 30).

Gosip-gosip tidak sedap adalah bentuk lain dari ujian dan cobaan. Setiap da’i harus menghadapinya dengan sabar. Kadang ada segelintir orang yang merekayasa gosip-gosip tidak sedap itu, bahkan sampai pada upaya pemutarbalikan fakta. Inilah yang terjadi kepada Yusuf.

“Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu.” (QS. Yusuf, 12: 35)

Tentang ayat ini Ibnu Katsir berkata, “Mereka memenjarakannya (Yusuf) setelah tersiar berita yang mengesankan seolah-olah Yusuflah yang merayu istri Al-Aziz.”

Begitulah, ujian datang bertubi-tubi. Yusuf kemudian dipenjara, meskipun ia tidak bersalah. Ruang geraknya dibatasi demi melindungi aib istri pejabat yang tengah terpikat dan bergelora cintanya. Yusuf tetap bersabar. Di satu sisi ia pun bersyukur karena Allah telah mengabulkan do’anya,

“Wahai Tuhanku, penjara lebih Aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu Aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah Aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf, 12: 33).

Ya, penjara baginya lebih baik daripada terganggu oleh godaan wanita yang tetap bernafsu untuk menundukkannya (lihat: ayat 32).

Keempat, pelajaran tentang dakwah yang tidak kenal henti.


Dalam situasi sesulit apa pun, dan kondisi yang sempit, dakwah tetap harus dikobarkan.

Bersama Yusuf masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Keduanya meminta kepada Yusuf  untuk mentakwilkan mimpi mereka, “Sesungguhnya aku bermimpi memeras anggur.” dan yang lainnya berkata: “Sesungguhnya aku bermimpi membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung.” Dua orang pemuda itu adalah pelayan-pelayan raja; seorang pelayan yang mengurusi minuman raja dan yang seorang lagi tukang buat roti.

Perhatikanlah bagaimana Yusuf memanfaatkan kesempatan itu untuk menyampaikan dakwahnya,

“Yusuf berkata: ‘Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian.

Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya).

Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa

Apa yang kamu sembah selain Dia hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf, 12: 37- 40).

Ayat ini menggambarkan kepiawaian Yusuf dalam berkomunikasi. Sayyid Qutb berkata, “Tampak sekali metode pembicaraan Yusuf yang halus dalam memasuki jiwa orang tersebut. Tampak pula kecerdasan dan kecerdikannya di dalam mengungkapkan kalimat yang halus dan lembut.”

Mula-mula Yusuf menenangkan mereka dengan mengatakan bahwa dia akan mentakwilkan mimpi mereka. Karena Tuhannya telah mengajarinya ilmu. Namun dengan kepiawaiannya Yusuf mulai menggiring pembicaraan untuk mengenalkan ajaran tauhid yang diyakininya. Setelah seruannya selesai, barulah ia menjelaskan takwil mimpi yang diminta kedua temannya itu.

Sayyid Qutb kembali berkomentar, “Ini merupakan cara masuk yang halus…selangkah demi selangkah…penuh kehati-hatian dan lemah lembut…Kemudian ditanamkan ke dalam hati mereka lebih banyak dan lebih banyak lagi. Dan dijelaskanlah kepada mereka akidahnya dengan sejelas-jelasnya, Disingkapkannya kerusakan akidah mereka dan kaum mereka, serta keburukan realitas kehidupan yang mereka jalani…”

Kisah Yusuf di atas mengajarkan kepada para da’i, bahwa dalam kondisi apa pun dakwah harus tetap dijalankan. Tak kenal henti.  Ayat-ayat di atas mengisyaratkan pula bahwa para da’i harus memiliki visi yang jelas dalam dakwahnya; memiliki target dan memahami prioritas dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan para mad’u.

Ditegaskan di dalam kisah ini bahwa prioritas dakwah adalah seruan kepada tauhid. Kisah Yusuf mengajarkan kepada para da’i untuk tidak terjebak atau membatasi diri  pada hal-hal populis dalam seruan dakwahnya, sementara lupa pada misi utama yang diembannya.

Satu hal lagi yang diajarkan dalam ayat-ayat ini, bahwa upaya-upaya untuk keluar dari kesempitan harus terus dilakukan. Yusuf melakukan hal itu dengan meminta kepada temannya untuk menyampaikan hal dirinya kepada Raja Mesir. Hal ini diharapkan dapat menjadi jalan kebebasannya.

“Dan Yusuf Berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: ‘Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.’ Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.” (QS. Yusuf, 12: 42).

Kelima, pelajaran tentang pentingnya para da’i memiliki keunggulan ilmu.


Keunggulan ilmu, mutlak dibutuhkan oleh para da’i. Dengan keunggulan itu mereka dapat memberi dan menawarkan solusi kepada umat. Begitulah kisah Yusuf mengajarkan kepada kita. Saat Raja dibingungkan oleh mimpinya yang aneh Yusuf kemudian mampu menjelaskannya. Ia dapat memprediksi masalah-masalah yang akan menimpa masyarakat dan sekaligus mampu memberikan solusinya (lihat: ayat 43 – 49).

Ayat-ayat ini harus menjadi renungan bagi para da’i masa kini. Sudahkah mereka mampu memberi dan menawarkan solusi pada masyarakat?

Harus difahami bahwa pekerjaan da’i hendaknya tidak hanya terbatas pada urusan perbaikan akidah dan ibadah. Kontribusi mereka hendaknya tidak terbatas pada urusan moral semata. Di dalam kisah ini Allah menyampaikan pesan, bahwa seorang da’i pun harus mampu berbicara tentang ‘masalah dunia’ yang ada dalam realita masyarakat.

Oleh karena itu jama’ah dakwah hari ini, harus mampu menghimpun bibit unggul, menyiapkan iron stock, sebagai upaya turut serta dalam memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat.

Keenam, pelajaran tentang perlunya melakukan upaya rehabilitasi citra dakwah.


Ayat 50 – 53 surah ini menginformasikan bagaimana upaya Yusuf merahabilitasi nama baiknya. Ia telah digosipkan melakukan rayuan kepada majikannya untuk berbuat serong sehingga ia dipenjara. Saat Raja memanggilnya menghadap, Yusuf menolak, ia meminta terlebih dahulu agar Raja melakukan penyelidikan terhadap kasus yang dituduhkan kepadanya. Dengan upayanya itu, tersingkaplah kebenaran. Nama baiknya kembali pulih. Wanita penggoda Yusuf mengakui kesalahannya.

Sikap Yusuf seperti itu dipuji oleh Rasaulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Karena hal itu menunjukkan keutamaan dan kesabaran Yusuf. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


لَوْ كُنْتُ أَنَا لأَسْرَعْتُ الإِجَابَةَ, وَمَا ابْتَغَيْتُ العُذْرَ - رواه احمد


“Jika yang dipenjara itu aku, niscaya aku akan bergegas memenuhi ajakan utusan itu dan tidak akan meminta alasan.” (HR. Ahmad).[3]

Pelajaran yang dapat diambil dari kisah ini adalah perlunya para da’i mengupayakan rehabilitasi atas citra buruk yang disematkan musuh-musuh kepada dirinya dan dakwah. Mereka harus berupaya menutup celah-celah yang mungkin dimanfaatkan oleh para pendengki di kemudian hari.

Citra yang baik sangat dibutuhkan dalam dakwah. Karena ia dapat melahirkan kepercayaan dan dukungan.

Ketujuh, pelajaran tentang kesiapan para da’i berkontribusi dan memikul tanggung jawab kenegaraan.


Saat Raja meminta Yusuf untuk membantu pemerintahannya, Yusuf menawarkan diri untuk mengisi jabatan bendaharawan negara. Hal ini disebutkan dalam ayat 54 – 55,

“Dan raja berkata: ‘Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku’. Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: ‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami’.

Berkata Yusuf: ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan’.

Sayyid Qutb menjelaskan bahwa Yusuf hanya meminta jabatan yang diyakininya dapat mengatasi krisis di masa depan. Jabatan yang diyakininya akan melindungi orang-orang dari kematian, melindungi negara dari kehancuran dan kelaparan.

Yusuf tidak meminta kedudukan demi kepentingan diri sendiri, sesungguhnya tugas mencukupi kebutuhan makanan suatu bangsa yang dilanda kelaparan selama tujuh tahun berturut-turut, tidak seorang pun mengatakannya sebagai keberuntungan. Sesungguhnya tugas ini merupakan beban yang dihindari oleh setiap orang.[4]

Point ketujuh ini memperkuat apa yang sudah dijelaskan sebelumnya pada point kelima, bahwa para da’i harus memiliki keunggulan ilmu, dengan begitu ia akan mampu memberikan kontribusi dan siap memikul tanggung jawab (qudratu ‘ala tahammul) demi kemaslahatan masyarakat.

Ayat ini mengisyaratkan sekali lagi kepada para da’i, hendaknya mereka mempersiapkan diri dan tidak segan menjadi pengelola negeri. Mengemban tugas negara untuk memberikan kebaikan kepada masyarakat secara luas, tanpa melihat latar belakang mereka, apa pun suku, agama, dan ras mereka. Karena tugas kita adalah beramal saleh, menebarkan seruan Islam, dan mewujudkan rahmatan lil ‘alamin. Allah tidak menuntut kita untuk berhasil secara total mengislamkan masyarakat seluruhnya, walaupun itu harus kita upayakan dengan keras. Urusan hidayah adalah urusan Allah semata.

Itulah yang dilakukan Yusuf di negeri Mesir. Ia berkontribusi, beramal, dan berusaha menyelamatkan masyarakat dari kelaparan; menyelamatkan negara dari kehancuran. Agama raja dan masyarakatnya yang jauh dari tauhid, tidak menghalanginya untuk menebarkan kebaikan. Tentu saja dengan kekuasaannya, Yusuf terus berusaha menyeru masyarakatnya kepada tauhid, tetapi sekali lagi, urusan hidayah adalah urusan Allah. Al-Qur’an bahkan menyebutkan bahwa Yusuf ‘gagal’ menjadikan masyarakatnya menjadi masyarakat Islam secara menyeluruh.

Allah mengungkapkan hal ini dengan firman-Nya,

“Dan sesungguhnya Telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata: ‘Allah tidak akan mengirim seorang (rasulpun) sesudahnya.’ Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu.” (QS. Mu’min, 40: 34)

Ini adalah kalimat yang disampaikan anak paman Fir’aun yang beriman kepada Nabi Musa. Ia menyatakan ini untuk mengingatkan Fir’aun tentang ajaran tauhid yang pernah diserukan di negeri Mesir dahulu kala.[5]

Jadi, Yusuf  telah mengajak mereka beriman dan memberikan bukti-bukti kerasulannya yaitu ajaran-ajaran tentang iman kepada Allah dan berbuat baik, serta mu’jizat-mu’jizat yang diberikan Allah kepadanya. Akan tetapi mereka tetap tidak mau percaya kepadanya. Mereka hanya mematuhinya sebagai seorang menteri atau pembesar negara.[6]

Kenyataan seperti ini menjadi penegasan kepada para da’i bahwa mereka berdakwah semata-mata karena Allah. Mereka berkontribusi dan berbuat kebaikan kepada negara semata-mata karena ibadah kepada-Nya. Jihad siyasi yang dilakukan saat ini adalah sebuah ikhtiar agar mereka mampu beramal lebih banyak dan menunjukkan kepada masyarakat bahwa Islam itu rahmatan lil ‘alamin.

Kedelapan, pelajaran tentang keharusan berbuat baik dan memaafkan kesalahan kaum pendengki.


Ayat 58 – 101 surah ini mengisahkan episode terakhir kisah Yusuf. Bagaimana Yusuf setelah diberikan kedudukan yang mulia mampu menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. Bahkan ia tidak hanya memberikan manfaat kepada rakyat Mesir saja, akan tetapi meluas sampai ke negeri-negeri di sekitarnya.

Disini diceritakan bahwa saudara-saudara Yusuf dari negeri tetangga datang memohon pertolongan. Disinilah Yusuf diuji kembali kesabarannya. Apakah ia tetap sabar atau melampiaskan kemarahannya atas perilaku zalim saudara-saudaranya itu sebelumnya?

Yusuf ternyata memilih untuk bersabar, berbuat baik, dan memaafkan saudara-saudaranya itu.

Dia (Yusuf) berkata: “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang”. (QS. Yusuf, 12: 92).

Begitulah seharusnya seorang mu’min. Begitulah seharusnya para pengemban dakwah bersikap. Kelak ketika mereka diberikan kemuliaan oleh Allah, memiliki kekuasaan dan kehormatan, ia mampu tetap berbuat baik dan memaafkan orang-orang yang pernah mendengki dan mencelakakannya.

Itu pula yang dilakukan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam saat melakukan fathu Makkah. Beliau berseru kepada orang-orang Quraisy, “Wahai orang-orang Quraisy, menurut kalian, bagaimana tindakanku terhadap kalian?” Mereka menjawab, “Kebaikan. Saudara yang mulia. Keponakan yang mulia.” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pergilah kalian. Sekarang kalian adalah orang-orang yang merdeka.”[7]

Terakhir, marilah kita renungkan do’a yang dipanjatkan Yusuf kepada Tuhannya,

“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS. Yusuf, 12: 101)

Demikianlah diantara mutiara-mutiara hikmah yang dapat digali dari kisah yang terbaik ini. Semoga Allah mencurahkan hidayah dan bimbingan kepada kita semua dalam mengarungi jalan dakwah. Amin Ya Rabbal ‘Alamin…


Daftar Bacaan
- Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Jilid II, Gema Insani Press.
- Terjemah Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Jilid VI, Sayyid Qutb, Gema Insani Press.
- Al-Qur’anul Karim Wa Tafsiruhu, Jilid VIII, Kementerian Agama RI.
- Fikih Sirah, Dr. Said Ramadhan Al-Buthy, Hikmah.
- Fikih Harakah, Jamal Sulthon, Cahaya Press.

[1] Lihat terjemah Fi Zhilalil Qur’an, Gema Insani Press, jilid 6 hal. 301 – 303.
[2] Lihat: Fikih Harakah, Jamal Sulthon, Hal. 91 – 93, Cahaya Press.
[3] Lihat: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid II, Gema Insani Press, hal. 862
[4] Lihat: Terjemah Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Jilid VI, Gema Insani Press,  hal. 366-367
[5] Para ulama berbeda pendapat tentang nama anak paman Fir’aun ini. Al-Khazin dan An-Nasafi menyebutnya bernama Sam’an atau Habib, sementara ada yang menyebutnya bernama Kharbil atau Hazbil. (lihat: Al-Qur’anul Karim Wa Tafsiruhu, Jilid VIII, hal. 530).
[6] Lihat: Al-Qur’anul Karim Wa Tafsiruhu, Jilid VIII, hal. 536.
[7] Lihat: Fikih Sirah, Dr. Said Ramadhan Al-Buthy, Hikmah, hal. 477.

Sumber: http://www.al-intima.com


Ikuti berita terkini di handphone anda di m.pkstaktakan.org




Read more

Oleh: Farid Nu’man Hasan

Pertanyaan:
Assalammu’alaikum

Ustadz, bagaimana hukumnya apabila kita mengamalkan hadits-hadist dhaif? Jazakallah (Ayu_ NP)

Jawaban:
Wa ‘Alaikum salam wa Rahmatullah wa barakatuh.

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah wa ‘ala aalihi wa man waalah, wa ba’d:

Hadits-hadits dhaif (lemah), yang tidak bisa dipastikan asalnya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, para ulama sepakat tidak boleh dipakai dalam perkara aqidah dan hukum agama. Ada pun penggunaan hadits dhaif untuk perkara menggalakan dan merangsang manusia untuk melaksanakan  fadhailul a’mal (amal-amal utama), akhlaq, kelembutan hati, dan semisalnya, maka para ulama berbeda pendapat.

Imam An Nawawi mengklaim bahwa para ulama telah sepakat (konsensus) bolehnya menggunakan hadits-hadits dhaif untuk perkara fadhailul a’mal tersebut. Beliau mengatakan:


وقد اتفق العلماء على جواز العمل بالحديث الضعيف في فضائل الأعمال


Para ulama telah sepakat bahwa bolehnya beramal dengan hadits-hadits dhaif dalam masalah fadhailul a’mal.. (Muqadimah Al Arbain An Nawawiyah)

Namun, kenyataannya hal ini termasuk khilafiyah di antara para ulama Islam.  Hanya saja memang, jumhur (mayoritas) ulama  membolehkan menggunakan hadits dhaif  hanya untuk tema-tema fadhailul a’mal, targhib wat tarhib, dan hal-hal semisal demi mengalakan amal shalih dan kelembutan hati dan akhlak. Tetapi pembolehan ini pun mereka memberikan syarat, yakni:

1. Tidak terlalu dhaif, tidak sampai perawinya tertuduh sebagai pendusta dan pemalsu hadits.
2. Tidak bertentangan dengan tabiat umum agama Islam.
3. Jangan menyandarkan atau memastikan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika mengamalkannya.
    Mereka yang membolehkan di antaranya adalah Imam Ahmad, Imam Al Hakim, Imam Yahya Al Qaththan, Imam Abdurrahman bin Al Mahdi, Imam Sufyan Ats Tsauri, Imam An Nawawi, Imam As Suyuthi, Imam ‘Izzuddin bin Abdissalam, Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id, dan lainnya.

    Sedangkan pihak yang menolak adalah Imam Al Bukhari, Imam Muslim, Imam Yahya bin Ma’in, Imam Ibnu Hazm, Imam Ibnul ‘Arabi, Syaikh Ahmad Muhammad Syakir, Syaikh Nashiruddin Al Albani dan lainnya dari kalangan hambaliyah  kontemporer, juga yang nampak dari pandangan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi Hafizhahullah. Bagi mereka, selama hadits shahih masih ada, maka cukuplah bersandar dengannya, baik dalam urusan aqidah, syariah, fadhailul a’mal, akhlak, dan semisalnya. Sebab, menyibukkan diri dengan hadits dhaif, akan membuat terlupakannya hadits-hadits shahih. Menggunakan hadits dhaif, sama juga memasukkan ke dalam Islam sesuatu yang bukan bagian dari Islam. Tidak menggunakan hadits shahih, sama juga menghapuskan dari Islam sesuatu yang sebenarnya merupakan bagian dari Islam. Inilah bahayanya.

    Berikut ini saya sampaikan  fatwa Syaikh Yusuf Al Qaradhawi Hafizhahullah dalam situsnya tentang menggunakan hadits dhaif untuk fadha’ilul a’mal.

    Pertanyaan: 


    Bagaimana pandangan syara’ atas para dai, penasihat, khathib, dan ulama yang banyak menyampaikan hadits-hadits dhaif, dan orang  bodoh dari kalangan penuntut  ilmu pemula yang  tidak memahami kelemahannya, dan tidak tahu kesungguhan para ulama hadits. Jika mereka diingkari, mereka menjawab; “hadits dhaif boleh diamalkan untuk Fadhaiul A’mal, juga dalam pelajaran, dan targhib (kabar gembira) dan tarhib (ancaman).

    Jawaban:  (Fatwa Syaikh Yusuf Al Qaradhawi Hafizhahullah)


    Bismillah, wal hamdulillah, washshalatu wassalam ‘ala rasulillah, wa ba’du:

    “Sebagian ulama berpendapat bahwa dibolehkannya menyampaikan hadits-hadits dhaif dalam urusan nasihat dan bimbingan, dan dari apa-apa yang disitilahkan dengan fadhailul a’mal. Sampai-sampai banyak  yang mengklaim bahwa ulama telah  sepakat  terhadap pendapat ini.

    Tidak ragu lagi, ini adalah salah besar. Sejumlah besar para ulama muhaqqiq (peneliti) berpendapat bahwa tidak boleh mengamalkan hadits dhaif dalam fadhailul a’mal dan lainnya. Ini adalah pendapat Imam Bukhari dan dikuatkan oleh Syaikh Al Albani pada masa kita sekarang.

    Lagi pula, pihak yang membolehkan mengamalkan hadits dhaif untuk Fadhail juga memberikan syarat dengan syarat yang begitu penting sampai-sampai tidak mungkin, sehingga sama saja itu sebagai hadits shahih. Syarat yang mereka keluarkan adalah: hadits tersebut kedhaifannya ringan, dan  kandungannya   memiliki dasar yang kuat yang telah ada pada hadits lain yang tidak dhaif, dan hendaknya si penasehat menjelaskan kepada manusia bahwa hadits tersebut adalah dhaif.  Demikian.

    Ulama yang luas ilmu-ilmu syariat selamanya tidak akan pernah berhujjah dengan hadits-hadits dhaif, karena hadits-hadits shahih begitu  banyak dan mencukupi. Namun, orang-orang yang sering menggunakan hadits dhaif, mereka hanyalah orang-orang yang  membuat  mudah  populernya   hadits-hadits dhaif, lantaran sedikitnya pergaulan mereka terhadap hadits dan ilmu-ilmunya.”

    (Dalam Fatwanya yang lain Syaikh Al Qaradhawi mengatakan):

    “Banyak amal yang disandarkan oleh mereka kepada apa-apa yang telah disiarkan oleh orang yang menganggap hadits dhaif itu boleh diriwayatkan dalam fadhailul amal, kisah, targhib, tarhib, dan semisalnya.

    Kami (Syaikh Al Qaradhawi)  akan memberikan sejumlah peringatan sebagai berikut:

    Pertama. Pendapat ini tidaklah disepakati, di sana terdapat sejumlah besar para imam  mu’tabar yang menolak menggunakan hadits dhaif dalam semua bidang, sama saja baik fadhailul a’mal dan lainnya.

    Itu adalah pendapat Imam Yahya bin Ma’in, dan segolongan para imam, dan juga zahirnya pendapat Imam Al Bukhari; orang yang telah meneliti dengan cermat dan detil terhada syarat diterimanya hadits. Juga Imam Muslim yang   dalam mukadimah Shahihnya telah menilai buruk terhadap para periwayat hadits dhaif dan munkar, juga terhadap orang yang meninggalkan khabar yang shahih. Ini juga kecenderungan pendapat Imam Abu Bakar bin Al ‘Arabi pemimpin madzhab Malikiyah dizamannya, juga Imam Abu Syamah pemimpin madzhab Syafi’iyah pada zamannya, dan pendapat Imam Ibnu Hazm, dan selainnya.

    Kedua. Jika telah ada dalam hadits shahih dan hasan  yang memuat makna dan maksud pelajaran dan peringatan, maka tidak ada artinya bergantung  dengan hadits lemah lagi lembek. Allah Ta’ala telah mencukupkan dengan baik dibanding yang jelek, dan jarang sekali makna agama, akhlak, dan taujih, yang tidak ditemukan dalam hadits shahih dan hasan, betapa itu sudah memadai.  Tetapi lemahnya keinginan,  dan mengambil segala apa saja yang datang kepadanya tanpa mengkaji dan muraja’ah, membuat begitu mudahnya tersebarnya hadits dhaif secara mutlak.

    Ketiga. Sesungguhnya hadits dhaif tidak boleh disandarkan kepad Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan bentuk kata jazm (pemastian). Disebutkan dalam kitab At Taqrib dan Syarhnya: “Jika anda hendak meriwayatkan hadits dhaif tanpa isnad, maka jangan katakan: Qaala Rasulullah  kadza  (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda begini).’ Atau kata lainnya yang semisal pemastian. Tetapi katakanlah: ruwiya ‘anhu kadza (diriwayatkan darinya begini), atau disampaikan kepada kami darinya begini,    atau  telah sampai, atau telah dating, atau telah dinukil darinya, dan yang semisalnya dari bentk kata tamridh (bentuk kata yang menunjukan adanya cacat), seperti rawaa ba’dhuhum (sebagian mereka meriwayatkan). Maka, apa yang menjadi kebiasaan sebagian khatib, juru nasihat, ketika menyampaikan hadits dhaif dengan ucapan: Qaala Rasulullah (Rasulullah telah bersabda), adalah pekara yang tidak dapat diterima.

    Keempat.  Ulama yang membolehkan menggunakan hadits dhaif dalam urusan targhib dan tarhib tidaklah membuka pintu bagi semua yang dhaif. Mereka memberikan syarat untuk itu, yakni ada tiga syarat:

    1. Kedhaifannya tidak terlalu.
    2. Hadits tersebut   masih masuk ke dalam prinsip dasar  syariat yang dapat diamalkan melalui Al Quran dan Sunah yang shahih.
    3. Ketika mengamalkannya tidak memastikan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, justru hendaknya berhati-hati.
      Dari sini telah jelas, bahwa tak satu pun ulama membolehkan menggunakan hadits dhaif dengan pembolehan  tanpa ikatan dan syarat. Bahkan mereka memberikan tiga syarat sebagaimana yang telah disebutkan.

      Sebagai tambahan dari syarat asasi ini, yaitu hendaknya hal itu pada fadhailul a’mal saja tidak berakibat pada hukum syariat. Dalam pandangan saya, hendaknya syarat ini ditambah dua syarat lagi, yakni:

      Isinya tidak mengandung hal-hal yang bombastis dan ditolak oleh akal, syariat, dan bahasa. Para imam hadits telah menyebutkan bahwa hadits palsu dapat diketahui melalui qarinah (petunjuk) pada perawinya dan apa yang diriwayatkannya.

      Tidak bertentangan dengan nash syar’i lain yang lebih kuat darinya.

      Wallahu A’lam

      Sumber: http://www.al-intima.com


      Read more
      Oleh: Anis Matta, Lc
      pkstaktakan.org - Jika kita ingin mengukir cerita sejarah kita, cobalah berimanijinasi, menghayal. Hayalkan semua cerita yang akan kita wariskan kepada anak-anak kita, cucu-cucu kita, kepada orang yang datang sesudah kita. Mungkinkah cerita itu suatu waktu akan menjadi tema khutbah generasi yang akan datang? Mungkinkah cerita itu akan menjadi catatan sejarah yang akan dibaca oleh puluhan tahun generasi yang akan datang? Itulah cerita yang harus kita buat, cerita yang akan menjadi kenangan, dan sekaligus menjadi amal yang akan mengantarkan kita masuk surga.

      Untuk itu, mari kita kenang tiga cerita sejarah ini:

      1. Cerita Ain Jalut

      Jengis Khan telah membunuh 3 juta orang dalam kurun waktu sekitar 20 tahun. Dia bukan hanya membunuh 3 juta orang, tapi juga membumi-hanguskan tumbuhan dan binatang. Salah satu strategi perangnya adalah mengirimkan ketakutan kepada musuhnya sebelum ia sampai kepada musuhnya.

      Karena itulah dia membasmi semua yang ditemui di depannya. Termasuk di antaranya adalah membakar seluruh perpustakaan yang ada di Baghdag, Jengis Khan akhirnya menaklukkan Baghdad. Bayangkan bagaimana pada suatu hari ketika Jengis Khan ada di baghdad, seorang wanita Tartar mengumpulkan 100 laki-laki muslim dan berkata, “Hai kalian laki-laki! Tundukkan kepala kalian!” kemudian perempuan menyembelih satu persatu laki-laki itu, dan tidak satupun yang melawan. Tahukah kalian berapa orang yang dibunuh Jengis Khan di Bagdhad? 80 ribu orang! Sampai-sampai muncul mitos di dunia Islam, khususnya di Syiria, Damaskus yang mengatakan “Kalau pasukan Tartar itu datang jangan dilawan, biarkan dia mengambil apa yang dia mau.”

      Di sebuah tempat yang dilalui oleh Jengis Khan, ada sebuah kerajaan yang bernama kerajaan Khawarizim, kerajaan ini juga dihancurkan oleh Jengis Khan, seluruh raja-rajanya dibantai. Tapi ada seorang anak yang merupakan keponakan raja yang selamat dari pembantaian itu, dibawa lari oleh pembantu bersama putri raja, saudara sepupu. Kemudian di tengah perjalanan diculik, dibawa ke India. Dalam perjalanan diculik lagi dan dijual sebagai budak, terus-menerus dijual sebagai budak dan berpindah-pindah tempat hingga akhirnya dia sampai ke Damaskus. Begitu sampai ke Damaskus dia diterima oleh seorang pengusaha dan pengusaha ini mempunyai majelis ilmu. Pengajar di majelis ilmu itu adalah seorang ulama besar dalam bidang fiqh. Setelah ia mendapatkan pendidikan yang baik, budak ini kemudian disisipkan masuk ke Mesir, lalu dia menjadi tentara mesir. lalu kemudian di tengah jalan, rajanya meninggal dan pengganti rajanya ini adalah seorang anak kecil yang berumur 7 tahun. Lalu akhirnya yang memimpin kerajaan itu adalah seorang perempuan yang bernama Syajaratu Dur. Tapi kerajaan mengalami bencana, sedang Mesir adalah kota terakhir yang akan diambil-alih oleh Tartar. Dalam kacau seperti itulah akhirnya terjadi pembunuhan di istana, dan Syajaratu Dur dibunuh. Kemudian muncullah lelaki budak ini memimpin Mesir, periode inilah yang disebut sebagai zaman budak-budak. Siapa nama budak ini? Namanya Al-Muzaffar Qutuz, laki-laki inilah yang kemudian menyiapkan Mesir untuk melawan dan menghentikan seluruh ekspansi Tartar. Penghentian ekspansi Tartar itu terjadi dalam sebuah pertempuran besar yang bernama Ain Jalut.

      Pertempuran itulah yang selanjutnya yang mengubah sejarah cucu-cucu Jengis Khan, karena sejak kekalahan itu cucu-cucu Jengis Khan akhirnya masuk Islam dan mereka berbalik menyebarkan Islam ke Asia Tengah sampai ke Asia Selatan. Sisa-sisa cucu Jengis Khan yang paling terakhir yang mendirikan kerajaan Mughal di India yang kemudian menciptakan Taj Mahal, kerajaan yang berumur 200 tahun.

      Sebuah perlawanan yang menghentikan penjajahan, kemudian membalikkan penjajah itu menjadi muslim dan kembali menjadi pembangkit Islam. Itulah peristiwa Ain Jalut. Sejarah itu catatan tentang pembalikan situasi.

      2. Cerita di Hittin

      Perang salib telah berlangsung selama 200 tahun dan terjadi dalam 8 gelombang. Selama 7 gelombang kaum muslimin menderita kekalahan, sampai datang Shalahuddin Al-Ayyubi.

      3. Cerita Pembebasan Konstantinopel

      Seorang anak muda diangkat menjadi khalifah pada umur 16 tahun dan para senior di kerajaan itu meremehkan anak muda ini. Apa yang bisa dilakukan anak muda ini? Para senior dan sesepuh di kerajaan tidak percaya dengan kemampuan anak muda yang berumur 16 tahun. Ketika terjadi guncangan, dia gagal. Ia sempat mengembalikan kerajaan kepada ayahnya, tapi kemudian diberikan kembali. Akhirnya dia mulai berpikir, ada satu cara untuk membuat para senior di kerajaan ini bisa percaya padanya. Lakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan mereka. Seorang penyair Arab berkata, “Walaupun aku adalah generasi yang datang paling ujung, aku akan melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh para pendahulu.” Apa yang tidak bisa dilakukan oleh orang terdahulu? Membebaskan Konstantinopel. Sudah 700 tahun Rasulullah memberikan janji bahwa itu akan dibebaskan, dan sejak khalifah Utsman kaum muslimin sudah berusaha untuk sampai ke sana, tapi tidak satu pun yang pernah sampai. Sampai datang anak muda ini yang ingin membuat cerita sejarah, cerita yang akan dikenang. Anak muda itu adalah penakluk Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih.

      Saudara sekalian, kita harus menjadi penghayal besar yang ingin menulis cerita sejarah kehidupan. Jangan pernah membiarkan orang lain menulis cerita kehidupan kita. Jangan pernah membiarkan orang lain melakukan sesuatu yang membuat mereka menentukan masa depan kita. Tidak boleh ada orang yang menentukan masa depan kita! Kitalah yang bertanggung jawab untuk menulis cerita dan masa depan kita sendiri. Cobalah bayangkan bahwa anak dan cucu kita membaca sejarah perjuangan politik Islam di Indonesia dan menemukan nama kita dalam sejarah itu. Bisakah kita membayangkan sebelum kita wafat, sebelum kita mengucapkan dua kalimat syahadat yang terakhir, kita hanya ingin menyampaikan doa yang sederhana kepada Allah “Ya Allah, jika di tahun 2014 itu adalah amal besar yang telah kulakukan, sepenuhnya ikhlas hanya untuk-Mu, maka jadikanlah amal itu menjadi pengantar aku masuk ke surga.” Bisakah kita membuat cerita seperti itu? Bisa!!!!


      Sumber: www.dakwatuna.com

      Read more

      Copyright © 2012, BitsaMedia Allrights Reserved - Magazine World Theme - Designed by Uong Jowo Redesigned by Kusriyanto